Hey guys! Ceritanya gue mau berbuat baik nih. Di sekolah ada tugas pembuatan karya ilmiah, dan Thank God, I've done it well. Specially thanks juga buat my soulmate, Sheila Clarissa, yang setia nemenin gue dalam pembuatan karya ilmiah ini, yang bantu dengan sekuat tenaga jiwa dan raganya #duh. She's great and really patient to face kind of people as me! And because of her helps, we can be the first people who finished the deadlines! So great! Untuk membantu teman-teman lain, makanya gue share link ini.
Butuh inspirasi dalam pembuatan karya ilmiah? Check this links out! Ada dua part nih :b
http://www.slideshare.net/ViviLim11/1-33967779
http://www.slideshare.net/ViviLim11/2-33967784
Sometimes people keep their feelings by themselves. Some people express it by singing or dancing. Some express it by writing. And sometimes people need to read and understand the other people feelings either by writing or reading♡ We need to think logically about how people feel, how the feelings come, and how to solve stupid feelings~
Saturday, 26 April 2014
Monday, 21 April 2014
Good in Goodbye #ShortStory #LAFLAF #Part2
“Woi, gimana kabar lu?”, tanya Jason saat
bertelepon dengan Vira.
“Baik, lu sendiri gimana Jas?"
“Everything is alright, until someone come
into my life.”
“Ah banyak gaya lu Vi, pake bahasa inggris
segala.”, ledek Jason.
“Iya dong, kan ceritanya gue ngomong sama bule
nyasar gitu~ hahaha”
“Iya deh iya, by the way anyway busway, lu
kenapa cewek?”
“Tidak apa-apa kawan. Trust me bro, it works!”
“Jahat nih ya, mentang-mentang kita sudah lama
terpisahkan. Huhuhu”
Beberapa jam mereka bertelepon, saling berbagi
cerita satu dengan yang lain. Mereka terpisahkan jarak berkilo-kilo meter.
Bahkan zona waktu antara mereka berdua pun berbeda. Bagaimana mereka dapat
bersama? Jalinan hubungan antara mereka, yang sudah lama mereka bangun. Ya,
tetapi itulah kenyataan yang harus mereka terima. Jarak antara Indonesia dan
Australia tidaklah sedekat Jakarta-Bogor atau Surabaya-Sidoarjo yang dapat
ditempuh dengan jalur darat yang singkat. Tetapi mereka tetap berusaha untuk
mempertahankan hubungan mereka. Memang sulit dan tak mudah. Awalnya memang ada
rasa kehilangan. Rasa rindu yang saling menghantui satu dengan yang lainnya.
“Eh, gue pergi ke college dulu ya. Bye
cewekk~”
“Yah jahat lu, ninggalin gue lagi. Gue lagi
bosen nih”
“Heh, bosen mulu kerjaan lu, mandi makan terus
belajar atau kerjain tugas gih, jangan sampai kecapean atau keburu tugas ya.”
“Iya bapak-bapak bawel yang sok dewasa~ nurut
aja deh gue.”
“Baguslah. Dasar bocah! Hahaha”
Akhirnya pun mereka menutup teleponnya dan
kemudian melakukan aktivitasnya masing-masing. Dengan kesibukan mereka sendiri,
mereka pun seakan-akan lupa dengan kerinduan yang mereka alami. Sampai suatu
ketika Vira ingat bahwa beberapa hari lagi merupakan ulang tahun Jason.
“OMG! Bentar lagi si
manusia rese ulang tahun! Duh gimana ya? Gue bingung mau kasih kado apa, malah
udah ga bisa dikerjain lagi gara-gara udah terpisah jarak gini. Yaampun! I have
no idea!”, kata Vira sambil menepuk jidatnya.
Beberapa saat Vira
diam dan termenung, duduk memikirkan kado apa yang harus ia berikan kepada
sahabatnya yang sudah pindah jauh tersebut. Banyak sekali hal yang disukai oleh Jason, baik mengenai kepemimpinan, filosofi dan sejarah yunani, dance, dan music.
Jason. Sahabat yang
paling mengerti dirinya. Orang yang selalu membuatnya tersenyum saat ia dilanda
kesedihan. Apalah daya dia sudah jauh
disana. Namun ia sangat bersyukur, karena pria yang meskipun jauh jaraknya dengannya,
namun pria itu jugalah yang paling dekat dan akrab dengannya. Pria itu juga
yang paling mengerti dirinya. Pria itu juga yang selalu mendukung impian,
cita-cita, dan keinginannya. Sinergi antara keduanya sangat baik.
Pernah sesekali ia
membayangkan hidupnya tanpa Jason. Sungguh hampa. Bahkan sangat tak
terbayangkan lagi. Hancur. Ya, mungkin itu merupakan kata yang paling tepat
untuk menjelaskan hidup Vira tanpa Jason. Entah apa yang ada di benak Jasonmengenai Vira, Vira tak peduli. Yang terpenting baginya, Jason adalah salah
satu harta yang sangat berharga di dunia ini yang bisa ia miliki.
Diambilnya sepucuk
kertas berwarna merah muda, kemudian ditulislah surat untuk Jason. Mulai dari
ucapan-ucapan ulang tahun, harapan-harapan untuk tahun-tahun ke depannya, dan
cerita-cerita masa silam tentang mereka berdua. Rasanya surat itu tidak dapat
menjelaskan banyak hal mengenai mereka. Rasanya ingin sekali Vira bertemu
dengan Jason, kemudian mereka bercanda, tertawa, dan saling mengusili satu
dengan yang lain. Maka ditulislah pada bagian akhir surat,
“Lu masih gamau balik
kesini Jas? Masih betah disana? Enak banget ya disana? You should know
something, I miss that time when you used to mock me, when you tried to trick
me, and every silly, idiot, little things we had done together.”
Tanpa disadari, air
mata menetes dari mata kecil Vira. Vira benar-benar sangat merindukan Jason.
Diputuskanlah bahwa Vira akan mengirimkan surat itu beserta buku-buku dan novel
favorite Jason. Ia berharap agar Jason menyukai kado pemberian Vira.
Hari demi hari dilewati
Vira sambil menunggu kabar sampainya kado itu di tangan Jason. Namun Jason tak
kunjung juga mengabarinya. Bahkan pesan yang coba dikirim oleh Vira tidak
mendapatkan respon. Entah apa yang sedang terjadi, pikirnya. Ada kekhawatiran
yang cukup mendalam di lubuk hari Vira. Tapi
ia berusaha menutupinya dan terus tersenyum.
“Aku harus bisa sabar
menunggu kabar itu, kalau misalnya tidak ada kabarnya pun, aku harus
mengikhlaskannya saja.”
Tepat di hari ulang
tahun Jason, Vira mengirim pesan ucapan selamat ulang tahun lagi kepada Jason.
“Happy birthday bule
nyasar. God bless ya! Have a big blast.”
Kemudian ia kirim. Kemudian
tak disangka, Jason meneleponnya kembali.
“Halo?”
“Ya, hallo? Kenapa Jas?
By the way happy birthday ya jelek! Lu udah
terima chat dari gue?”
“Udah cewek. Makasih ya!
By the way, gue mau minta maaf karena ngisengin lu beberapa hari ini,
sebenarnya paket lu udah nyampe dari beberapa hari yang lalu, tapi gue pengen
isengin lu nih. Udah lama ga iseng. Hehe. Thank you so much ya!”
“UUHHH iseng banget
sih lu! Tapi yaudahlahyah, gimana? Lu suka kadonya?”
“Suka banget. Gue beneran
speechless gatau mau ngomong apalagi ke lu. Gue bersyukur banget bisa punya
sahabat bawel dan jelek kayak lu Vi. Lu beneran mengerti gue banget, dan lu selalu
setia support gue, apapun keadaan gue. Thank you banget Vi!! Sumpah ini beneran
udah speechless! Love you so much jelek!”
“Love you too bawel! Baguslah
kalau lu suka, setidaknya pilihan gue ga salah. Have a year of joy ya cowok
bawel! Huahaha!!”
“Iya, cewek ngeselin! Wkakaka
sahabat macem apa lu ngatain gue terus? Gue lagi ulang tahun harusnya
dipuji-puji nih.”
“Pengen banget dipuji
bro? Ga cocok dipuji lu! Hahaha”
“Tuh kan tega! Oh iya,
untuk membalas isi surat lu itu, gue bakalan pulang ke Indonesia di hari ulang
tahun lu! Puas ga? Mumpung disini lagi summer vacation nih. Jadi gue bisa
manfaatin waktu gue buat ketemu cewek bawel dan ngeselin kayak lu dulu! Sekalian
refreshing. “
“SUMPAH LUUU?!! WAA
SENENG BANGET GUEE! LAFLAF JAS! AKHIRNYA DIRIMU KEMBALI!”
“Cie kesenengan. Gausah
lebay gitu ah Vi, kayak mau ketemu artis aja. Eh,gue kan artis ye kan!”
“Duh males deh gue
jadinya. Gue tutup aja ya telfonnya? Hahaha”
“Tutup aja sana,
palingan nanti juga lu yang kangen.”
Vira sungguh lega hari
itu. Rasanya emas yang hilang itu akhirnya kembali lagi ke dalam genggamannya. Tak
pernah sekalipun ia membayangkan bahwa ulang tahunnya nanti akan diwarnai
dengan warna baru yang sudah lama hilang dalam hidupnya. Seperti rangkaian
pensil warna yang tidak lengkap. Namun kini, pensil warna yang hilang itu
akhirnya ditemukan.
“Every hello has its
goodbye. But remember, there is something good that you can learn from the word
‘goodbye’. Because in ‘goodbye’ itself,
it is written ‘good’. So, start believing and dream, but don’t forget to make
it comes true.” - @ViDarmalim.
Monday, 14 April 2014
LAFLAF! #ShortStory #2ndEdition
Tiga belas tahun lamanya mereka saling mengenal satu dengan
yang lainnya. Tujuh tahun lamanya mereka terpisah satu sama lain. Enam tahun
lamanya mereka selalu bersama. Empat tahun mereka hilang komunikasi satu dengan
yang lainnya. Lost contact, mungkin itu nama elite-nya.
“Apakah dia masih mengingatku? Apakah dia masih ingat siapa
aku? Apakah dia akan tetap seperti Tommy yang ku kenal dulu?”, pikir Vira dalam
hatinya.
Hari-hari yang dia lewati selama liburan menjadi suram dan
tidak jelas. Liburan yang seharusnya menjadi hari yang membahagiakan bagi
seorang pelajar SMA seperti dirinya berubah seketika. Entah apa yang ada di
dalam benaknya. Entah apa yang membuatnya flashback pada masa lalunya itu.
“Aduh apaan sih ini! Otak gue kenapa deh! Errghhh! Move on,
Vi! Move on! Lu udah ga di Medan lagi! Inget itu!”, gerutu Vira pada dirinya
sendiri.
“Aaahh yaampun gue kenapa sih! Harusnya kan gue belajar
fisika! Udah tau fisika susah! Malah beberapa hari lagi ulangan lagi. belum
lagi ulangan-ulangan lainnya. Yaampun jadwal padet tapi otak gue malah kayak
begini.”, gumam Vira sambil melihat kearah cermin di kamarnya itu.
Tampaknya itu bukan menjadi hal yang aneh lagi bagi Vira.
Kebiasaan berpindah kota karena pekerjaan ayahnya itu membuat dia harus
terpisah dengan banyak orang, terutama sahabat-sahabat yang ia sayangi itu.
Gadis berambut ikal berwarna hitam, berdiri tegak di depan kaca, melamun dengan
tatapan kosong. Apa yang ada di dalam pikirannya? Tentu saja bayangan akan
sahabat-sahabatnya yang pernah ada dalam hidupnya. Sahabat yang selalu menemani
dalam suka maupun duka. Sahabat yang menemani setiap moment gila, konyol, dan
idiot yang dilalui bersama.
Masih teringat bayang-bayang itu. Wajah-wajah penuh
senyuman. Wajah-wajah dengan air mata yang harus diusap dengan tangan halus
seorang sahabat. Wajah-wajah kelelahan karena aktivitas yang dilalui bersama.
Dan wajah itu takkan pernah terhapuskan dalam hidupnya.
“Gue kangen lu, Tom. Gue kangen waktu kita bareng. Gue
kangen waktu gue nangis karena keisengan yang lu bikin. Gue kangen waktu gua
sedih dan galau dan lu yang ada buat gue. Gue kangen waktu kita hang out bareng
temen-temen lain dan we really enjoy it.”, Vira menangis.
“Kenapa kita harus pisah sih? Kenapa kita bisa hilang
contact gitu aja? Kenapa lu ga pernah nyariin gue sama sekali? Apa lu udah lupa
sama gue? Segampang itukah lu lupain semua kenangan kita bersama?”
Semakin Vira menggerutu semakin deras juga tangisan yang
membasahi pipinya itu. Belum lagi kenangan-kenangan lain bersama teman-teman
lainnya itu. Vira, gadis manis yang terkenal dengan ke-tomboy-annya itu memang
lebih banyak bergaul dengan banyak pria. Namun ia juga masih memiliki
teman-teman wanita lainnya. Faula, Sherine, Catherine, Felizha, Melyana, Putri, Monica, Tania,
Petricella, Stella, dan masih banyak nama yang tak tersebutkan. Terlalu banyak
orang yang berarti bagi dirinya. Tetapi, bayangan Tommy dan segala keisengan
yang dia lakukan tak luput dari ingatan Vira.
“Tau ah, capek gue. Kebanyakan berharap ini mah namanya.
Takut di-PHP-in diri sendiri ah. Mau sampe kapan hidup dalam harapan dan
bayangan masa lalu terus? Hufftt”
Diambilnya tas yang berisi ponsel dan dompetnya itu,
dinyalakannya sepeda motor yang terparkir tepat di depan rumahnya, dan Vira pun
berangkat. Beberapa saat ia berkeliling mengelilingi perumahan tempat ia
tinggali itu, dan berhentilah ia di tepi danau. Bengong, melamun, sambil
mengingat kenangan masa lampaunya. Terdengar suara anak-anak kecil berlarian
bersama hewan peliharaannya. Balita-balita belajar berjalan dan naik sepeda.
Remaja-remaja sepantarannya bermain basket. Namun semua itu tak memalingkan
sedikitpun fokusnya terhadap masa lampaunya.
Masa-masa yang masih membebani pikirannya saat itu.
“Percuma juga gue nge-stalkiing temen-temen gue dari zaman
bahala sampe sekarang, masih aja ga ketemu account lu, Tom. Lu itu gaptek atau
apa sih?! Heran gue! Twitter ga punya, instragram ga punya, facebook jarang
dibuka, line lu gajelas id-nya apa. Ngeselin banget sih lu jadi cowok! Errghh!
Heran gue kenapa gue bisa punya temen ngeselin kayak lu!”, lagi-lagi Vira
mengomel.
“Ngeselin tapi lu sayang juga kan sama dia?”
Suara itu sentak mengagetkan Vira. Lamunan seketika terhenti.
“Jas! Gila kurang ajar lu ngagetin gue! Tau darimana lu gue
disini?”, Vira bangkit dari batu besar yang ia duduki, kemudian mengejar Jason yang mengagetkannya saat itu.
“Ehh udah ah, Vi, gue capek lari-larian. Kenapa lu bengong
disini sendirian?”, Tanya Jason sambil memegang tangan Vira agar tidak
memukulnya.
“Gapapa kok Jas. Hehe. Sini lu cerita kenapa lu bisa tau gue
disini!”
“Taulah! Jason gituloh! Hahahaa”
“Ah licik lu ketawa-ketawa kayak begitu! Seriusan!”
“Yaelah kita kayak baru kenal sehari aja Vi! Kalau lu lagi
gaada di rumah dan gaada yang tau lu kemana dan lu tiba-tiba ga bales chat gue
di kala penting gini ya kemana lagi selain ke tempat ini? dan kenapa lagi kalau
bukan sedih?”
“Waaa you know me so well Jas! Hahahaha”
“Lebay ah lu Vi!”
“Ah ga seneng aja lu Jas!”
“Eh btw anyway busway nih ya, lu kenapa sedih? Jahat lu, ga
story-story ke gue! Wooo”, ledek Jason sambil menoel kepala Vira.
“Sorry dory strawberry blueberry don’t worry coy~ gue ga
kenapa-kenapa kok, Cuma kangen temen lama aja.”
“Loh kan udah ada gue, cowok paling ganteng, keren, unyu,
cool sejagad raya alam semesta ini. Ngapain kangen lagi?”, hibur Jason .
“Aduh pede banget sih lu Jas! Gue jitak nih lu! Sok keren
banget sih jadi cowok! Hii geli deh gue.”, Vira memukul pundak Jason .
“Iya deh iyaa~ hahaha seriusan nih lu kenapa? Kangen temen
lama yang di Medan atau yang dimana lagi? Cupcupcupp~”
“Heh! Lu kira gue anak kecil apa pake cupcupcup segala
hahaha~ iya gue kangen temen-temen gue yang di Medan. Kangen banget. Ga boong,
ciyus, cumpah, enelan, miapapun deh.”
“Alay ah lu jelek!”, Jason menepuk jidat Vira.
“Heh tepok tepok jidat! Nanti gue jenong gimana? Sini lu!
Gue tepok balik!”
Jason , pria yang selama ini selalu menemani Vira saat Vira
sedih, saat Tommy masih dalam bayangan Vira. Meskipun Jason pria yang iseng,
tapi Jason-lah yang paling mengenal Vira, Jason yang paling tahu bagaimana membuat
senyuman Vira kembali lagi seperti sedia kala. Tak jarang gossip antara mereka
berdua dilontarkan. Tetapi mereka mengabaikannya. Bagi mereka, yang penting mereka
bahagia dan yang penting mereka nyaman dengan hubungan mereka.
“Nah gitu dong Vi, senyum lagi, kan lebih enak dilihatnya!”,
ledek Jason .
“Makasihh>< imut kan gue? Makin cantik, unyu-unyu,
pasti lu langsung nge-fans sama gue! Ya ga? Ngaku aje luuuu!”
“Helloo?! Gue?! Nge-fans?! Sama lu?! Oh My God! Oh My No! Oh
My Wow! Ga mungkin keles!”
“Ga seneng aja lu ah! Jelek dasar!”
“Tuh kan manyun lagi, dasar jelek lu Vii! Gue jejelin lumpur
nih ke mulut lu biar ga bisa manyun lagi!”
“Tuh kan jahat lagi sama gue! Cowok macem apa luu?!
Tega-teganya menyakiti wanita yang imut nan cantik ini.”
“Tau ga Vi, gue pengen muntah denger kalimat lu barusan!
WAKAKAKAKA”, Jason meledek Vira, kemudian lari secepat yang ia bisa.
“HEH jangan lari lu! Sini balik! Mentang-mentang gue ga bisa
lari terus lu striker futsal bukan berarti lu bisa kerjain gue dengan cara
lari-larian gini yaa!!”, teriak Vira kesal.
“Tau ah gue capek! Sana lari sejauh mungkin! Gausa balik
lagiii!!”
Vira yang kala itu sedang lelah kemudian memilih untuk duduk
diatas batu besar dibawah pohon rindang di tepi danau itu dan duduk menunggu
sendiri.
“Ah elah kemana sih itu anak. Keterusan lari atau apa deh.
Ampun dah gue. Capek gue nungguinnya.”
Beberapa saat Vira menunggu datangnya Jason , tetapi ia tak
kunjung juga kembali. Kemanakah dia pergi? Danau ini terlalu luas untuk
dikelilingi seorang gadis sendirian. Vira masih memilih untuk menunggu.
Tiba-tiba ada yang menutup mata Vira dari belakang, dan karena kaget, Vira pun
berteriak.
“AAAAA!!! SIAPA NIH?!”
“Ah tomboy tapi cempreng teriakan lu. Gimana sih.
Cewek-cewek.. ckckck”
“Aduh ga seneng aja manusia satu ini. Namanya juga cewek
unyu~”, ucap Vira kepedean sambil memukul badan Jason sepuasnya.
“Aduh aduh! Sakit jeleeekkk”
“Biarin aja! Emangnya enak kerjain gue! Sini lu, belum puas
gue mukulin luuu”
“Bwee! Uda ga bisa mukul gue lagi kan lu! Tangan lu uda gue
tahan! Ayo sini temenin gue belajar aja!
Ajarin gue sini!”
“Heh lepasin tangan gue! Ah sakiitt”
“Bilang iya dulu baru gua lepasin. Katanya tomboy, tapi kok
gini aja kesakitan.”
“Iyaiyaa! Uhhh”
“Yaudah ayok, ke food court deket rumah lu aja, biar cepet.
Gue udah bawa bukunya nih.”
“Iya bawel!”
Kemudian mereka pun belajar sambil makan bersama. Terkadang
pun diselingi dengan canda tawa dan sedikit guyonan agar tidak membosankan.
Setelah beberapa jam mereka belajar bersama, akhirnya mereka selesai dan sangat
lega.
“Makasih ya cewek tomboy sejagad raya yang ga bisa dandan
sedikit pun, sudah berbaik hati mau ngajarin cowok sekeren gue ini.”, ujar Jason .
“I don’t know what I am going to say, but this is so
fitnah!”, Vira tidak terima.
“Inggris macem apaan itu Vi. Elite dikit kenapa deh inggris
lu.”
“Tuh kan bawel banget. Kenapa sih jadi cowok bawel banget.
Euw~”
“Eh eh eh!!”
“Apa apa?”
“Gapapa.”, Jason tersenyum.
“IIHH kenapa sihh?!”
“Itu rambut lu berantakan Vira-ku sayang yang unyu-nya
sejagad raya tiada tara, sini gua benerin rambut lu dulu.”
Vira terdiam. Ia kehabisan kata-kata. Dibiarkannya Jason membenahi rambutnya yang menurutnya berantakan itu.
“Nah, kalau udah dibenerin kan jadi makin unyu. Ya ga?”
“Apaan sih lu Jas? Lebay deh. Mau rapi mau berantakan gua
tetap unyu kok”
“Aduh males deh ya muji cewek kayak lu, baru dipuji dikit
aja uda keterusan. Eh ayo pulang.”
Mereka pun berberes-beres kemudian pulang ke rumah
masing-masing. Sesampainya di rumah, Vira yang kelelahan pun akhirnya tertidur
begitu saja. Keesokkan paginya, ia pun segera bersiap untuk ke sekolah kembali
karena liburannya telah usai.
“Eh kebo! Kemana aja lu kemaren?”
“Umm..Hehehe ketiduran”
“Gausah sok nyengir deh, udah gendut makin gendut lu, tidur
mulu!”
“Manusia butuh istirahat yang cukup broh~”
“Iya deh iya, ngalah aja gue sama lu. Ayo masuk kelas
bareng”
“Lu kesambet malaikat surgawi ya Jas? Kok tumben dari
beberapa hari yang lalu lu baik sama gue?”
“Loh? Emang gue pernah jahat sama lu? Ga pernah kali~ lu aja
yang negative thinking terus sama gue.”
“Ah yasudahlah, yuk capcus.”, Vira berusaha melupakan.
Vira memang terkenal cuek dan tidak peduli. Tetapi sekali ia
peduli dengan teman dan sahabatnya, ia akan terus memperdulikan mereka. Sudah
tak diherankan lagi jika Vira lebih banyak bergaul dengan Jason dan
teman-temannya. Vira juga dikenal dengan ke-tomboy-annya. Ia memang tak banyak
menunjukkan. Tetapi ia berbeda dengan gadis-gadis lain sepantarannya. Ia bahkan
tak tahu bagaimana cara merias wajah, cara berpakaian feminism dan girly. Baginya,
yang terpenting adalah harga dirinya tidak dijatuhkan oleh orang lain saja
sudah harus disyukuri.
Beberapa hari ini Jason tampak berbeda. Ia menjadi pribadi
seseorang yang sangat mengalah dan
meluangkan banyak waktunya untuk menghibur Vira. Tidak seperti biasanya.
Padahal Jason terkenal dengan hobi bermain game, basket, dan futsalnya. Bahkan
jarang sekali mereka bisa bersama setelah pulang sekolah. Pada awalnya Vira
tidak menyadarinya. Namun lama kelamaan Vira sadar akan perubahan yang terjadi
pada sahabatnya itu.
“Lu kenapa sih Jas? Kok aneh?”, Tanya Vira curiga.
“Hah? Aneh apanya? Lebay ah lu Vi”, Jason menjawab sambil
kebingungan.
“Beneran Jas, jujur. Lu ada masalah? Kok ga cerita ke gue?”,
Vira membujuk lagi.
“Umm..cerita ga yaa”, ledek Jason .
“Tuh kan mulai lagi jahatnya, pelit cerita ah lu. Tega lu
tegaaa”, Vira memanyunkan bibirnya.
“Eh jelek ah, jangan gitu. Hahaha”
“Makanya cerita!”
“Jadi gini, gue suka sama satu cewek. Baik banget sih
anaknya menurut gue. Cantik lagi. Terus dia anaknya smart gitu. Dan ga banyak
macem. Kalau lagi ngambek sama gue, dia imut banget. Makanya gue suka ledekin
sama isengin dia. Pokoknya gue nyaman banget bisa deket sama dia. Makanya
akhir-akhir ini gue spend waktu gue buat dia terus. Karena gue sayang sama dia.
Dan gue gamau kehilangan dia. Gue juga gamau liat dia sedih.”
“Gile! Itu gue banget! Cantik imut unyu smart lagi!
Wakakakak kidding kidding! By the way anyway busway, namanya siapa bro?”, Vira
tertawa sambil melet.
“Vira. Ya, itu lu.”
“Ga lucu men! Becandaan lu jelek tingkat tinggi. Level
rendahan lu! Lagi serius gini malah becanda.”, Vira marah.
“Gue serius Vi, ngapain gue boong? Gue sayang sama lu. Lu
cewek unik bagi gue. Sahabat yang ngertiin gue banget. Lu tau kenapa gue berani
ngomong gini ke lu?”
“Kenapa?”, Tanya Vira sinis.
“Karena hari ini juga, gue mau izin sama lu. Gue mau pergi
ke Australia untuk lanjutin sekolah gue. Gue mau pergi bawa cinta gue ini. gue
janji gue bakalan balik lagi kesini. Dan gue berharap lu nungguin gue. Gue
janji kita gaakan lost contact. Gue janji gue akan tetep ada buat lu. Gue janji
gue gaakan kayak sahabat lu yang sekarang lost contact sama lu.”
“Lu jahat Jas. Kenapa lu ninggalin gue?”, Vira menangis.
“Vii please jangan nangis. Gue sayang sama lu. Please
ngertiin keadaan gue. Gue juga gamau pisah sama lu. Tapi mau gimana lagi. ini
udah takdir. Kayak dulu lu pindah kesini. Itujuga bukan karena kehendak lu kan?
Inget Vi, zaman udah canggih. Kita punya banyak social media yang bisa
menghubungkan kita berdua, sejauh apapun jaraknya. Kalau lu ada apa-apa tell me
ya? Promise me.”
“Iyaa.. hiks hiks”, Vira masih menangis tersedu-sedu tidak
dapat menerima kenyataan akan perpisahan ini.
“Wanna have a hug?”, Jason membuka lebar lengannya.
Vira mengangguk.
“Jangan pernah lupain gue. Jangan pernah lupain kenangan
kita. Walaupun lu ngeselin, nyebelin, jelek, bawel, iseng, tapi you know how to
treat me well. Even sometimes we fight, but you know how to make it back to
usual. Lu tau cara bikin gue nyaman. Lu tahu cara bikin gue lupa sama masalah
gue dan segala kesedihan gue.”, Vira memeluk Jason kencang.
“Iya Vi. I promise. I owe you.”
Jason mengusap air mata yang bercucuran di pipi chubby Vira.
Kemudian bertindak konyol.
“LAFLAF! Ayo senyum”, Jason mengucapkan kata yang paling
sering diucapkan Vira saat sedang bertingkah konyol, kemudian memeragakan gaya
tangan membentuk hati diatas kepalanya. Seketika tangisan Vira berubah menjadi
senyuman yang lebar.
“Nah begitu dong, makin sayang dah gue sama lu Vii”
“Gue kan ngangenin dan imut imut lucu unyu unyu, pasti
banyak yang sayang. Ya kan ya kan?”
“Iyadeh iya, biar seneng~ eh tapi kalau gitu saingan gue
buat dapetin lu nanti makin banyak dong?”, ledek Jason .
“Ih apaan sih lu Jas? Dasar jelek nyebelin! Ayo ah pulang
aja, I miss my foods. Laper nih.”
“Dasar gendut, makan mulu lu.”
“Gendut tapi lu suka juga kan? Gausah ngeledek kalau gitu.
Bweee “
Hari-hari terakhir keberadaan Jason di Indonesia pun mereka
lewati bersama. Canda tawa dan berbagai lelucon dilontarkan. Sampai akhirnya Jason harus pergi meninggalkannya.
“Jas, ini ada kenang-kenangan buat lu. Semoga lu tetep inget
gue, dan inget janji kita.”
“Pasti Vi. Lu juga harus inget janji kita. Dan jangan lupa
janji lu untuk tetap jadi cewek yang strong. Gue yakin lu pasti bisa kok. Lu
cewek yang paling tangguh dan hard working yang pernah gue temuin. Wait for me
ya! Gue pergi dulu. See ya!”
“Bye Jas! Inget ngabarin ya!”, mata Vira berkaca-kaca.
“Iya jelek! Laflaf! Hahaha”
“Laflaf jugaa >.<”
Dan sejak saat itu, Vira dan Jason hanya dapat saling
berhubungan melalui social media. Sesekali mereka menelfon untuk mendengar
suara masing-masing dan bercerita akan banyak hal. Mereka saling menunggu. Menunggu
untuk bisa bersama kembali. Menunggu untuk melepas kerinduan. Menunggu itu
sulit. Menunggu itu membosankan. Menunggu itu sabar. Menunggu itu penantian. Tetapi
dari menunggu itulah kita belajar banyak hal.
“Terkadang tidak semua hal akan indah di waktu yang kita
inginkan. Tetapi percayalah, bahwa kebahagiaan memiliki caranya sendiri untuk
menunjukkan dirinya dengan cara yang indah, bahkan lebih indah dibanding yang
kita bayangkan.” - @ViDarmalim
Thursday, 10 April 2014
Anger Explosion~
In the beginning
Everything seemed alright
Everything fulled of smiles
Everything ran easily
But, by time goes
Everything has changed
People come and go
Tears drop and dry
Smile change into tears
Laughter into silences
I wonder why
I wonder how
They could think that kind of silly things
Feeling bad when I am happy
Even feel worst when I am laughing
Separation..
Is this all they want?
No matter how hard I try
How lot I cry
How much I beg
Will they realized?
That my heart is crying
My mind is moaning
and my anger is gonna explode
Will they care?
Will they feel guilty?
I am tired with this drama
Without a clear beginning and no endings
Don't you feel the same one?
What if it happened to you?
Would you be mad?
Would you get angry?
Would your anger explode?
Would you be strong enough to not cry?
How strong you could be?
If you were me?
I wanna see!
Prove you are brave!
Prove that you are a good friend!
Prove that you are strong!
Prove that you won't cry!
If you face the same thing!
In the end,
You are just pretending that nothing is happening
You are just sitting there, backstabbing me
Talking about me
What else you can do?
Fucking your life off?
HAHA! OH GREAT!
Everything seemed alright
Everything fulled of smiles
Everything ran easily
But, by time goes
Everything has changed
People come and go
Tears drop and dry
Smile change into tears
Laughter into silences
I wonder why
I wonder how
They could think that kind of silly things
Feeling bad when I am happy
Even feel worst when I am laughing
Separation..
Is this all they want?
No matter how hard I try
How lot I cry
How much I beg
Will they realized?
That my heart is crying
My mind is moaning
and my anger is gonna explode
Will they care?
Will they feel guilty?
I am tired with this drama
Without a clear beginning and no endings
Don't you feel the same one?
What if it happened to you?
Would you be mad?
Would you get angry?
Would your anger explode?
Would you be strong enough to not cry?
How strong you could be?
If you were me?
I wanna see!
Prove you are brave!
Prove that you are a good friend!
Prove that you are strong!
Prove that you won't cry!
If you face the same thing!
In the end,
You are just pretending that nothing is happening
You are just sitting there, backstabbing me
Talking about me
What else you can do?
Fucking your life off?
HAHA! OH GREAT!
Sunday, 6 April 2014
I am so sorry! #ShortStory #Part3
"Kamu kok gitu sih?", tanya Dennis kecewa.
"Apanya yang gitu? Kamu jangan berlebihan begitu kenapa sih?", bentak Fiona.
Siang hari itu semakin panas dengan adanya pertengkaran antara mereka. Enam bulan lagi mereka akan menikah, tetapi mereka malah bertengkar hebat. Padahal seharusnya mereka mendiskusikan banyak hal untuk pernikahan mereka. Fiona menangis. Dennis, yang seharusnya ada di samping Fiona, menghapus air mata yang membasahi pipinya, mengubah tangisan menjadi senyuman, pergi begitu saja meninggalkan Fiona yang sedang sedih hari itu.
Fiona berpikir panjang, apa yang telah ia lakukan kepada kekasihnya itu. Kesalahan besar seperti apa yang telah ia perbuat. "Dia sungguh berbeda hari ini.", ucap Fiona dalam hati. Fiona mengusap air matanya sendiri, kemudian bangkit.
"Liz, aku mau ke rumahmu sekarang. Stand by ya!", telfon Fiona kepada Elizabeth.
***
Sesampainya Fiona di rumah Elizabeth, Fiona langsung memeluknya dan menangis tersedu-sedu. "Lu kenapa Fi? Lu kesini sendirian? Cowok lu kemana?", tanya Elizabeth penasaran. Fiona tak dapat berhenti menangis. Dibawalah Fiona ke kamar Elizabeth dan dia berusaha untuk memberhentikan tangisan itu.
"Ceritain ke gue Fi lu kenapa..Jangan diem gini terus dong.", bujuk Elizabeth.
"Ada masalah sama cowok lu, si Dennis itu?"
Fiona mengangguk.
"Dia kenapa? Dia nyakitin hati lu? Atau apa?"
"Enggak kok.. tadi gue ngisengin dia, terus dia langsung marah dan bentak gue. Terus dia ninggalin gue gitu aja waktu fitting baju pengantin."
"APAAA?!! KETERLALUAN BANGET ITU COWOK!", Elizabeth kesal.
"Bukan salah dia kok, Liz. Itu salah gue. Coba aja gue tau dia ga mau diisengin hari ini. Pasti gaakan terjadi hal seperti ini.", hibur Fiona.
"Jangan salahin diri lu sendiri Fi. Ini ga pure salah lu. Dia juga lebay ah baru diisengin gitu doang udah marah! Mau gua telfon si Jack terus nanya ada apa sama Dennis ga?", tanya Elizabeth.
"Boleh deh. Thank you ya Liz. Sorry repotin."
"Kita ini sahabat. Lu ga pernah repotin gue kok.", Elizabeth tersenyum manis.
***
Pembicaraan Jack dan Elizabeth di telfon tidak berbuah apapun. Jack pun tidak tahu apa yang terjadi dengan Dennis. Hari itu sungguh aneh. Fiona memutuskan untuk pulang dan menyiapkan makan malam dan mengantarkannya ke rumah tempat kos Dennis untuk makan malam bersama. Ia menyiapkan semuanya dengan sepenuh hati dan berharap Dennis akan memaafkannya.
Ting tong.. Ting tong..
Bel tempat kos Dennis pun berbunyi. Dennis keluar dan membukakan pintu untuk Fiona.
"Hai Fi", ujar Dennis dengan senyuman.
Fiona sungguh lega mendengar kalimat singkat itu.
"Ini, aku masak buat makan malam kamu. Aku minta maaf ya. Aku tahu aku salah.", Fiona memohon.
"Tidak apa-apa kok Fi.. Kamu gausah memikirkan hal itu lagi. Aku sudah memaafkan kamu kok.", muka Dennis berubah.
"Jangan bohong. Aku tahu kamu masih menyimpan perasaan yang tidak enak padaku kan? Maafkan perbuatanku tadi. Sungguh, aku memohon padamu.", ucap Fiona sedih.
"Kamu tidak perlu melakukan ini untukku. Sungguh, aku tidak apa. Kamu lebih baik pulang saja, ini sudah malam kan. Tidak baik untuk seorang gadis pulang malam.", nasihat Dennis.
"Kamu tidak perlu melakukan ini untukku. Sungguh, aku tidak apa. Kamu lebih baik pulang saja, ini sudah malam kan. Tidak baik untuk seorang gadis pulang malam.", nasihat Dennis.
"Ya, ya kamu betul sekali. Memang seharusnya aku pulang. Kamu benar."
Mata Fiona berkaca-kaca. Tak seharusnya dia melakukan hal itu untuk Dennis karena sia-sia. Fiona sungguh menyesal. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk menebus kesalahannya pada Dennis.
Sesampainya di rumah, Fiona langsung mengambil handphone-nya dan mengirim pesan pada Dennis.
"Kamu jangan marah lagi sama aku. Aku sayang kamu. Please? Good night. I love you. Jangan lupa besok fitting baju pengantin ya :)"
Pesan sudah terkirim. Tak ada balasan apapun. Fiona menunggu berjam-jam, masih tak ada balasan apapun. Malam itu sungguh merupakan malam yang sungguh panjang untuknya. Hari yang seharusnya menjadi hari yang indah dan bahagia, berubah menjadi hari yang buruk. Mungkin hari terburuk yang pernah ada dalam hidupnya. Hingga larut malam, akhirnya Fiona tertidur. Tertidur bersama segala pikiran yang mengganggunya.
Sentak, ia terbangun. Tak disangkanya, ia memimpikan Dennis. Dennis benar-benar tak bisa hilang dalam ingatannya, pikirannya. Bagaimana mungkin mereka bertengkar hanya karena masalah kecil?
***
"Dennis, maafkan aku. Aku mohon, angkat telfonku.", gumam Fiona dalam kamar.
Dennis mengangkat telfonnya. Sungguh bahagia rasanya. Akhirnya mereka akan fitting bajupengantin bersama dan mereka pasti tidak akan diam-diaman seperti hari sebelumnya lagi, pikir Fiona.
Namun semua berubah saat mereka bertemu. Dennis diam. Diam seribu bahasa. Tak banyak yang ia ucapkan. Apapun yang dikatakan oleh Fiona selalu diiyakan olehnya agar tidak memancing keributan seperti yang biasa mereka lakukan. Padahal biasanya mereka selalu berargumen agar dapat saling menertawakan satu dengan yang lainnya. Namun, kali ini tidak. Fiona pun terdiam. Fiona takut. Sungguh takut. Apakah mungkin pernikahan itu akan dibatalkan? Ya, mungkin saja, pikirnya.
Dengan tergesa-gesa Fiona meminta pulang ke rumah dengan alasan sakit perut. Ia tak kuat melihat ketegangan yang terjadi antara mereka berdua. Sungguh menyakitkan. Ya, sakit sekali.
Beberapa hari berlalu, mereka masih dalam ketegangan yang sama. Fiona berusaha mencairkan suasan tegang itu dibantu dengan Elizabeth, tapi tak berguna. Sampai akhirnya, Dennis menelfon Fiona dan mengajaknya untuk bertemu.
"Maafkan aku.", ujar Dennis.
"Untuk apa?", jawab Fiona agak kesal.
"Untuk segalanya. Terutama beberapa hari ini. Mood-ku sedang tidak baik. Aku ada masalah yang belum dapat ku ceritakan. Tapi aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kamu mau kan memaafkanku?"
Berat bagi Fiona untuk memaafkan Dennis. Setelah beberapa saat mereka mengobrol dan Dennis menceritakan segalanya, akhirnya mereka pun berbaikan dan kehidupan mereka berjalan seperti biasa.
Fiona pun sangat lega akhirnya mereka dapat berbaikan kembali, dan ketakutan akan kegagalan pernikahannya pun batal. Dennis pun bersyukur karena Fiona dapat mengerti keadaannya.
Dennis mengangkat telfonnya. Sungguh bahagia rasanya. Akhirnya mereka akan fitting bajupengantin bersama dan mereka pasti tidak akan diam-diaman seperti hari sebelumnya lagi, pikir Fiona.
Namun semua berubah saat mereka bertemu. Dennis diam. Diam seribu bahasa. Tak banyak yang ia ucapkan. Apapun yang dikatakan oleh Fiona selalu diiyakan olehnya agar tidak memancing keributan seperti yang biasa mereka lakukan. Padahal biasanya mereka selalu berargumen agar dapat saling menertawakan satu dengan yang lainnya. Namun, kali ini tidak. Fiona pun terdiam. Fiona takut. Sungguh takut. Apakah mungkin pernikahan itu akan dibatalkan? Ya, mungkin saja, pikirnya.
Dengan tergesa-gesa Fiona meminta pulang ke rumah dengan alasan sakit perut. Ia tak kuat melihat ketegangan yang terjadi antara mereka berdua. Sungguh menyakitkan. Ya, sakit sekali.
***
Beberapa hari berlalu, mereka masih dalam ketegangan yang sama. Fiona berusaha mencairkan suasan tegang itu dibantu dengan Elizabeth, tapi tak berguna. Sampai akhirnya, Dennis menelfon Fiona dan mengajaknya untuk bertemu.
"Maafkan aku.", ujar Dennis.
"Untuk apa?", jawab Fiona agak kesal.
"Untuk segalanya. Terutama beberapa hari ini. Mood-ku sedang tidak baik. Aku ada masalah yang belum dapat ku ceritakan. Tapi aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kamu mau kan memaafkanku?"
Berat bagi Fiona untuk memaafkan Dennis. Setelah beberapa saat mereka mengobrol dan Dennis menceritakan segalanya, akhirnya mereka pun berbaikan dan kehidupan mereka berjalan seperti biasa.
Fiona pun sangat lega akhirnya mereka dapat berbaikan kembali, dan ketakutan akan kegagalan pernikahannya pun batal. Dennis pun bersyukur karena Fiona dapat mengerti keadaannya.
"When the word sorry means nothing, and what you did are worthless, believe that time will give you the answer of your problems." - @ViDarmalim ><
You Don't Know
You don't know how expensive a thing
Until you got economical crisis
You don't know how far you are
Until distances separate you
You don't know how you've been high
Before you're feeling low
You don't know what you have got
Until it is gone
You don't know which you go
Until you find choices
You don't know you've been in light
Until you are in the dark side
And unfortunately,
You don't know either you love her or not
Until she went away from your life
Until her tears when she was with you
Changes into smiles
You don't know how worthy she is
Until she doesn't care about you anymore
You don't know how important she is
Until you let her go
You don't know how interesting talking with her
Until you both stop talking, stop arguing
and stop laughing at each other
You don't know how much she used to miss you
Until you miss her but she doesn't care anymore
You never realized it
You never understand
You never care
Because you are too busy with your own
When she had gone away
Everything was gone
In the end,
There's only memories left
In the end,
There's only regrets
Why don't you realized it from the beginning?
Why don't you understand it?
It is only kind of simple thing
Why is it so hard for you?
She'd loved you with her deepest heart
Help you with all her strength
Take care of you with all her loves
Wait for you all her patience
But now it is too late
She'd gone
She'd left
And after all?
Will you still love her?
Until you got economical crisis
You don't know how far you are
Until distances separate you
You don't know how you've been high
Before you're feeling low
You don't know what you have got
Until it is gone
You don't know which you go
Until you find choices
You don't know you've been in light
Until you are in the dark side
And unfortunately,
You don't know either you love her or not
Until she went away from your life
Until her tears when she was with you
Changes into smiles
You don't know how worthy she is
Until she doesn't care about you anymore
You don't know how important she is
Until you let her go
You don't know how interesting talking with her
Until you both stop talking, stop arguing
and stop laughing at each other
You don't know how much she used to miss you
Until you miss her but she doesn't care anymore
You never realized it
You never understand
You never care
Because you are too busy with your own
When she had gone away
Everything was gone
In the end,
There's only memories left
In the end,
There's only regrets
Why don't you realized it from the beginning?
Why don't you understand it?
It is only kind of simple thing
Why is it so hard for you?
She'd loved you with her deepest heart
Help you with all her strength
Take care of you with all her loves
Wait for you all her patience
But now it is too late
She'd gone
She'd left
And after all?
Will you still love her?
Subscribe to:
Posts (Atom)