Bagaimana bisa untukku tidak peduli padamu?
Jika dirimu begitu berarti bagiku.
Bagaimana bisa aku acuh terhadap kehidupanmu?
Jika aku merupakan bagian dari hidupmu.
Bagaimana bisa aku menganggapmu bukan bagian dariku?
Jika kehadiranmu dalam hidupku, merupakan karunia terindah.
Bagaimana bisa aku berhenti tersenyum?
Jika kamulah alasanku untuk berhenti menangis.
Bagaimana bisa aku berhenti menatapmu?
Jika kamulah orang yang selalu ada di sampingku.
Tak banyak yang bisa aku ungkapkan
Ketika bukanlah kata yang menjadi acuan, melainkan rasa.
Rasa yang tak dapat diungkapkan hanya dengan kata-kata, melainkan perasaan.
Ketika bibir ini membeku dan tak dapat dipercaya.
Mungkinkah engkau akan mempercayai hatiku?
Dengan semua rasa yang ku simpan, untukmu.
Sejauh apapun kaki melangkah.
Sedingin apapun genggaman tanganmu.
Aku percaya, bahwa mata indah yang kamu miliki
Tercipta untuk memancarkan sorot indah kejujuran
Dan hati yang tulus untuk menyayangi.
Sometimes people keep their feelings by themselves. Some people express it by singing or dancing. Some express it by writing. And sometimes people need to read and understand the other people feelings either by writing or reading♡ We need to think logically about how people feel, how the feelings come, and how to solve stupid feelings~
Sunday, 19 June 2016
Monday, 8 February 2016
Autisme bukanlah masalah!
Di tengah kepenatanku dalam menjalani kehidupanku, baik dalam organisasi maupun kepanitiaan, atau perkuliahanku, aku melihat liburan sebagai sesuatu yang sangat indah yang sangat ingin aku nikmati dengan baik. Sejak menjalani kehidupan di dunia perkuliahan, aku kerap kali merasakan kejenuhan hati dan merasa ingin segera melarikan diri dari kenyataan agar bebanku terlepas.
Kali ini, di liburan singkatku, alias libur satu-hari-ku yang bertepatan dengan Hari Raya Imlek yang dirayakan oleh keluargaku, aku melakukan sesuatu yang kurang lazim. Tidak seperti pada umumnya aku berkunjung ke kediaman keluargaku ataupun melakukan perjalanan kembali ke Jakarta, keluargaku memilih untuk tetap di rumah dan mengundang kerabat-kerabat ayahku dan juga karyawan kami. Sudah biasa bagiku untuk melihat karyawan kami berkumpul dan mengundang mereka untuk makan bersama, terlebih pada saat Hari Raya Lebaran. Namun, karena kedatangan kerabat karyawanku yang belum pernah saya lihat keluarganya, saya merasa agak risih. Anak mereka cukup aneh, tidak punya rasa sungkan, dan juga blak-blak-an, yang membuat saya mengecap bahwa sang anak tidak tahu diri. Saya biarkan kelakuannya di rumah maupun di restoran. Di perjalanan pulang dari restoran ke rumah, ibu saya berkata bahwa sang anak mengidap autisme. Saya tertegun tidak percaya. Sungguh jahat diriku mengecap dia seperti itu. Aku menyalahkan kebodohanku. Dia autis, tapi dia masih berjuang untuk sama seperti anak-anak lainnya. Sejak saat itu, aku mulai memperhatikan gerak geriknya di rumahku. Dia memang aneh dan pola pikirnya berbeda. Dia kesulitan dalam berbicara karena lidahnya pendek. Dia harus bersekolah di Sekolah Luar Biasa yang sudah terlihat jelas bahwa dia berbeda dari yang lain. Tetapi dia tidak takut akan perbedaannya itu, atau mungkin dia tidak sadar bahwa dia berbeda. Aku sangat terharu akan perbuatan yang dia buat. Memang ada saat dimana dia bersikap sangat konyol dan nyebelin bagiku. Tetapi, dia mengajarkan bahwa kita harus tepat janji, harus berintegritas terhadap ucapan yang kita lontarkan. Memang yang dia lakukan merupakan hal yang sepele, memberikan uang dua ribu rupiah kepada anak kecil lain jika anak kecil itu berhasil memukul orang lain. Tetapi, konsistensi yang dia upayakan yang sangat aku hargai. Dia sampai rela meminta-minta uang dua ribu rupiah kepada ibu dan ayahnya demi menepati janjinya. Tidak hanya itu, dia juga sangat terbuka dalam hal agama. Bisa dibilang dia merupakan penganut agama islam yang taat, dia ingat kapan harus sholat dan apa yang harus dia lakukan, tetapi dia juga terbuka terhadap agama kristen dan tidak segan-segan mengakui bahwa Yesus juga merupakan salah satu Tuhan. Dirinya yang masih kecil, berumur kira-kira 10 tahun tetapi seperti anak berumur 5 tahun karena autisme yang dia idap, mengajarkan hal besar dalam hidupku tanpa dia sadari. Dia memang tergolong tidak tahu malu, sampai-sampai dia berani berkeliling rumah ke rumah untuk meminta sumbangan untuk mesjid di dekat rumahnya tanpa orang tuanya tahu. Saking tidak malunya dia, dia berani meminta jajanan pada penjual makanan di warung dekat rumahnya, tetapi dia tidak akan pergi ke warung untuk meminta jajanan lagi jika sang ayah berkata bahwa beliau belum membayarkan jajan yang dia ambil. Terlepas dari ketidaktahuan sang anak ayahnya berbohong atau tidak, dia merupakan anak yang mengerti kondisi orang tuanya. Terhadap anak-anak lain yang lebih kecil darinya, dia mendidik untuk saling mengasihi, bahkan ketika anak lain memegang bungkus rokok, dengan sigap dia berlari ke anak tersebut dan berusaha keras untuk merebutnya. Bagiku itu merupakan sebuah aksi heroik yang kebanyakan anak kecil tidak tahu, bahkan tidak peduli mengenai bahaya rokok, sedangkan sang anak autis itu dengan berani merampas rokok dari tangan anak kecil berusia tiga tahun.
Ya, Dimas. Bocah yang mengidap autisme, bocah yang terpinggirkan karena keterbelakangan mental, bocah yang selalu di cap buruk dan aneh. Bocah yang menjadi seorang pahlawan hari ini.
I am proud of you, Dimas.
Friday, 1 January 2016
WELCOME 2016!
[December 31st, 2015] INDONESIA - SURABAYA [19.46pm]
Hi guys! It is such a long time I didn't share anything else on blogs! I am so sorry for that.
2015 was - or maybe still is - a great year! 2015 is the end of my Senior High School's life and the first year and first semester of University's life. I can't say that University's life was so so so great until I wanna spend a long long time there. But I also can't say that University's life was sucks - although some of them was.
I didn't spend a lot of time to share many things in my life anymore on my blogs this year, because I open this year with a very busy preparations for my national exams. I tried hard, but the results was not really satisfying although I passed all of them. On the other hand, after finishing those kind of things, I was so glad that I could spend time with my friends-my close friends-to some place relaxing for some days. Unfortunately, not all of them could join. I was just so happy that we could create the best memories in this year. It might not be so many memories we have created, but at least we don't stop creating it. I spent another half year for my university's life. In the first day, I was so excited to learn, But in the end of that day I have already felt so tired because I got my first homework jackpot - absolutely not only one. But who knows I could passed them all today. I am getting ready for my second semester while enjoying my holiday! Yippee~~ But the best thing is, university's life gives me the miracle of finding new best friends! Of course not for replacing, but adding more memories.
I spent my holiday with my family to Bali, which is known as the island of a thousands temple (Pulau Seribu Pura). It was a great holiday there and I was happy that I could have refreshing after a year full of busy days. I won't talk much about my holiday because it is not the point. It is great for me and I am very thankful that God gave me a chance to spend time with my family after a busy days which make us rarely can come and go together, even just for a dinner. 2015 gave me a very great memories for me and my family.
2015 tells me how important a person to be their selves. I found out people become very annoying when it comes to pretend themselves to be someone's else. I hate it when I saw my friends act like they care when actually they are not. But yeah, I am glad that I don't have to be someone's else to satisfy some of my "not so important" friends. It might sound so mean, but who cares? I might seem so critically but that's me~
BY THE WAY HAPPY NEW YEAR 2016! Might all of us become more mature and growing! God bless all of us! #00.00 #1stJanuary
Tuesday, 29 December 2015
Cinta itu ... ?
Cinta itu tidak semudah yang aku bayangkan
Cinta itu rumit bahkan lebih rumit daripada yang dapat aku bayangkan
Cinta itu bukan sekadar jatuh hati
Cinta itu bukan sekadar kejar mengejar
Cinta bukan hanya sebatas masalah hati
Indahnya cinta bukan saja ketika kita saling mencintai
Indahnya cinta bukan saja ketika cinta kita terbalaskan
Indahnya cinta juga bukan karena kita dapat saling memiliki
Cinta itu indah karena hadirnya sebuah rasa saling menjaga
Cinta itu indah karena adanya rasa saling melengkapi
Cinta itu indah ketika kita tumbuh bersama dan saling mendukung
Namun cinta tidak seindah itu..
Rasa cinta yang hadir dalam hati ini
Sering kali terintervensi oleh pikiran
Ketika hati ini memilih untuk berhenti mencintai
Terkadang pikiran ini memaksa untuk terus mengejar cinta
Ketika hati ini memilih untuk tetap bertahan
Pikiran ini seketika melemah dan tetapi terus berusaha melawan kenyataan hati
Cinta itu bukan hanya antara aku dan kamu
Tetapi juga antara hati dan pikiran
Terkadang cinta terasa hambar bahkan pahit
Terkadang cinta seolah bukan sesuatu untuk dinikmati
Pahit dan sakitnya cinta seolah begitu dalam
Hingga aku menitikkan air mata ketika membahas cinta
Oh, Cinta..
Kemana seharusnya ku bawa cinta?
Bagaimana seharusnya aku menjagamu agar engkau tidak pergi?
Cinta..
Mengapa engkau begitu membingungkan?
Sampai kapan aku harus berjuang untuk cinta?
Tak dapatkah cinta berjuang untukku?
Kata orang cinta itu buta..
Kataku, cinta itu melihat
Melihat sisi baik dan buruk seseorang
Melihat indahnya paras wajah dan bentuk tubuhnya
Melihat latar belakangnya
Kemudian barulah memilih dan menentukan
Bisakah aku menerimanya sebagaimana adanya?
Kata orang, cinta itu sederhana
Kataku, cinta itu rumit.
Bagaikan benang yang kusut
Cinta itu merupakan gabungan banyak aspek
Sedih, senang, kecewa, marah, dan lainnya
Tetapi pada akhirnya, aku mengerti
Cinta itu belajar
Belajar saling mengerti
Belajar untuk saling mendukung
Cinta itu rumit bahkan lebih rumit daripada yang dapat aku bayangkan
Cinta itu bukan sekadar jatuh hati
Cinta itu bukan sekadar kejar mengejar
Cinta bukan hanya sebatas masalah hati
Indahnya cinta bukan saja ketika kita saling mencintai
Indahnya cinta bukan saja ketika cinta kita terbalaskan
Indahnya cinta juga bukan karena kita dapat saling memiliki
Cinta itu indah karena hadirnya sebuah rasa saling menjaga
Cinta itu indah karena adanya rasa saling melengkapi
Cinta itu indah ketika kita tumbuh bersama dan saling mendukung
Namun cinta tidak seindah itu..
Rasa cinta yang hadir dalam hati ini
Sering kali terintervensi oleh pikiran
Ketika hati ini memilih untuk berhenti mencintai
Terkadang pikiran ini memaksa untuk terus mengejar cinta
Ketika hati ini memilih untuk tetap bertahan
Pikiran ini seketika melemah dan tetapi terus berusaha melawan kenyataan hati
Cinta itu bukan hanya antara aku dan kamu
Tetapi juga antara hati dan pikiran
Terkadang cinta terasa hambar bahkan pahit
Terkadang cinta seolah bukan sesuatu untuk dinikmati
Pahit dan sakitnya cinta seolah begitu dalam
Hingga aku menitikkan air mata ketika membahas cinta
Oh, Cinta..
Kemana seharusnya ku bawa cinta?
Bagaimana seharusnya aku menjagamu agar engkau tidak pergi?
Cinta..
Mengapa engkau begitu membingungkan?
Sampai kapan aku harus berjuang untuk cinta?
Tak dapatkah cinta berjuang untukku?
Kata orang cinta itu buta..
Kataku, cinta itu melihat
Melihat sisi baik dan buruk seseorang
Melihat indahnya paras wajah dan bentuk tubuhnya
Melihat latar belakangnya
Kemudian barulah memilih dan menentukan
Bisakah aku menerimanya sebagaimana adanya?
Kata orang, cinta itu sederhana
Kataku, cinta itu rumit.
Bagaikan benang yang kusut
Cinta itu merupakan gabungan banyak aspek
Sedih, senang, kecewa, marah, dan lainnya
Tetapi pada akhirnya, aku mengerti
Cinta itu belajar
Belajar saling mengerti
Belajar untuk saling mendukung
Friday, 25 September 2015
Pesan Rindu
Rindu itu tidak terdefinisi
Rindu itu ambigu
Rindu ini menyiksa
Jiwa, raga, dan tubuh ini, rasanya aneh
Tetes demi tetes air mata mengalir deras dan akhirnya terjatuh.
Entah darimana asalnya perasaan ini.
Rindu yang menggelora dan tak tertahankan.
Apalah daya, gadis kecil ini?
Kekuatan yang ku miliki tak mampu menahan badai rindu yang menerpa.
Ingin rasanya aku menggenggam tangan hangatmu
Yang selalu meraihku ketika ku hampir tak mampu bangkit kembali
Ingin rasanya lengan ini memeluk erat dirimu
Yang selalu memberi kehangatan dalam dinginnya dunia
Ingin rasanya menyenderkan diri yang lemah ini pada pundakmu
Yang selalu menjadi sandaran ketika ku terjatuh
Namun itu hanyalah angan belaka
Kini jarak yang memisahkan kita
Beribu kilometer jauhnya
Atmosfer dunia yang berbeda
Sahabatku, teman terbaikku,
Mungkin kita belum dipertemukan sekarang
Mungkin juga engkau tidak merasakan apa yang aku rasakan
Tetapi jangan paksakan aku untuk membendung rindu ini
Pesan rindu ini ku sampaikan
Melalui merpati elok senja hari
Agar pesan rinduku temani tidur nyenyakmu
Indahkan mimpi dalam indahnya malam
Di bawah gemerlap bintang dan bulan
Temani malam sunyi nan sepi
Seperti sunyi nya hariku tanpamu
Rindu itu ambigu
Rindu ini menyiksa
Jiwa, raga, dan tubuh ini, rasanya aneh
Tetes demi tetes air mata mengalir deras dan akhirnya terjatuh.
Entah darimana asalnya perasaan ini.
Rindu yang menggelora dan tak tertahankan.
Apalah daya, gadis kecil ini?
Kekuatan yang ku miliki tak mampu menahan badai rindu yang menerpa.
Ingin rasanya aku menggenggam tangan hangatmu
Yang selalu meraihku ketika ku hampir tak mampu bangkit kembali
Ingin rasanya lengan ini memeluk erat dirimu
Yang selalu memberi kehangatan dalam dinginnya dunia
Ingin rasanya menyenderkan diri yang lemah ini pada pundakmu
Yang selalu menjadi sandaran ketika ku terjatuh
Namun itu hanyalah angan belaka
Kini jarak yang memisahkan kita
Beribu kilometer jauhnya
Atmosfer dunia yang berbeda
Sahabatku, teman terbaikku,
Mungkin kita belum dipertemukan sekarang
Mungkin juga engkau tidak merasakan apa yang aku rasakan
Tetapi jangan paksakan aku untuk membendung rindu ini
Pesan rindu ini ku sampaikan
Melalui merpati elok senja hari
Agar pesan rinduku temani tidur nyenyakmu
Indahkan mimpi dalam indahnya malam
Di bawah gemerlap bintang dan bulan
Temani malam sunyi nan sepi
Seperti sunyi nya hariku tanpamu
Friday, 5 June 2015
Katakanlah!
Aku memandang langit
Bertanya dengan penuh keingintahuan
Mengapa aku dilahirkan di dunia ini?
Langit diam membisu tanpa kata
Ku menatapnya tajam
"Langit, katakanlah!"
Kepada angin yang berhembus
Aku bertanya
"Mengapa engkau datang di saat kau tahu kau akan pergi?"
Angin tak menjawab
Kemudian pergi meninggalkanku begitu saja
Angin berhembus kencang
Rambut-rambutku pun ikut terhembus olehnya
Sangat sejuk dan menenangkan
Kemudian pergi lagi
"Angin, katakanlah!"
Membalikkan badan hanya sekadar untuk merentangkan badan
Aku menatap rumput yang kian menemaniku dengan pertanyaanku
"Hai rumput, masihkah kau menyayangiku, meskipun kau selalu tersakiti jikalau kau bersamaku?"
Ku harap rumput akan menjawab,
Dia seharusnya tahu betapa penting jawabannya untukku
Tetapi itu hanya harapan belaka
"Rumput, kumohon, katakanlah!"
Pohon yang rindang tepat diatasku
Aku yakin, sesuatu yang jauh lebih kuat dan lebih besar dariku
Pasti mengetahui segalanya
"Pohon, taman ini terlihat begitu indah, apakah ada cinta antara kalian semua?"
Pohon terdiam dalam seribu bahasa.
"Pohon, katakanlah!"
Aku menangis.
Sungguh sedih dan miris hidupku
Tak ada yang menjawabku, tak ada yang memperdulikanku.
"Tidak semua yang terlihat indah itu baik, dan tidak semua yang buruk itu adalah jahat."
Aku mendengar suara itu!
Di sekitar pohon itu.
Apakah itu pohon?
Segera aku mengusap air mataku dan beranjak.
Tidak seorang pun ada disana.
"Pohon kau kah itu?"
"Mengapa aku harus tak mencintaimu, gadis kecil? Aku diciptakan untuk membantu semua makhluk, menjadi makanan para herbivora, menjadi jalan, dan sandaran bagi kalian. Karena cintaku dan kasihku lah aku rela diperlakukan seperti ini."
Aku terkaget, "rumput, kau kah itu?"
"Aku datang dan pergi sesuai dengan waktuku. Jika memang waktuku, aku akan datang, namun jika bukan, aku harus pergi. Ingatlah bahwa akan ada sesuatu yang jauh lebih baik nantinya, yang telah dirancang dan disediakan untukmu."
Aku mrintikkan air mata, "terima kasih angin,", ucapku sambil membasuh air mataku.
Aku memandang langit, berharap ia memberikanku jawaban atas apa yang ku pertanyakan.
Namun tak ada jawaban, kemudian seketika langit tersenyum, dan berkata, "Ketahuilah nak, hidupmu berharga, carilah jalanmu sendiri, kendalikan diri dan emosimu, sayangilah orang yang ada untukmu, hargailah mereka."
Seketika hujan turun sangat deras sampai aku basah. Ya Tuhan, ternyata ini hanya mimpi.
Bertanya dengan penuh keingintahuan
Mengapa aku dilahirkan di dunia ini?
Langit diam membisu tanpa kata
Ku menatapnya tajam
"Langit, katakanlah!"
Kepada angin yang berhembus
Aku bertanya
"Mengapa engkau datang di saat kau tahu kau akan pergi?"
Angin tak menjawab
Kemudian pergi meninggalkanku begitu saja
Angin berhembus kencang
Rambut-rambutku pun ikut terhembus olehnya
Sangat sejuk dan menenangkan
Kemudian pergi lagi
"Angin, katakanlah!"
Membalikkan badan hanya sekadar untuk merentangkan badan
Aku menatap rumput yang kian menemaniku dengan pertanyaanku
"Hai rumput, masihkah kau menyayangiku, meskipun kau selalu tersakiti jikalau kau bersamaku?"
Ku harap rumput akan menjawab,
Dia seharusnya tahu betapa penting jawabannya untukku
Tetapi itu hanya harapan belaka
"Rumput, kumohon, katakanlah!"
Pohon yang rindang tepat diatasku
Aku yakin, sesuatu yang jauh lebih kuat dan lebih besar dariku
Pasti mengetahui segalanya
"Pohon, taman ini terlihat begitu indah, apakah ada cinta antara kalian semua?"
Pohon terdiam dalam seribu bahasa.
"Pohon, katakanlah!"
Aku menangis.
Sungguh sedih dan miris hidupku
Tak ada yang menjawabku, tak ada yang memperdulikanku.
"Tidak semua yang terlihat indah itu baik, dan tidak semua yang buruk itu adalah jahat."
Aku mendengar suara itu!
Di sekitar pohon itu.
Apakah itu pohon?
Segera aku mengusap air mataku dan beranjak.
Tidak seorang pun ada disana.
"Pohon kau kah itu?"
"Mengapa aku harus tak mencintaimu, gadis kecil? Aku diciptakan untuk membantu semua makhluk, menjadi makanan para herbivora, menjadi jalan, dan sandaran bagi kalian. Karena cintaku dan kasihku lah aku rela diperlakukan seperti ini."
Aku terkaget, "rumput, kau kah itu?"
"Aku datang dan pergi sesuai dengan waktuku. Jika memang waktuku, aku akan datang, namun jika bukan, aku harus pergi. Ingatlah bahwa akan ada sesuatu yang jauh lebih baik nantinya, yang telah dirancang dan disediakan untukmu."
Aku mrintikkan air mata, "terima kasih angin,", ucapku sambil membasuh air mataku.
Aku memandang langit, berharap ia memberikanku jawaban atas apa yang ku pertanyakan.
Namun tak ada jawaban, kemudian seketika langit tersenyum, dan berkata, "Ketahuilah nak, hidupmu berharga, carilah jalanmu sendiri, kendalikan diri dan emosimu, sayangilah orang yang ada untukmu, hargailah mereka."
Seketika hujan turun sangat deras sampai aku basah. Ya Tuhan, ternyata ini hanya mimpi.
Saturday, 18 April 2015
Terlalu Lama Aku Pendam
Rasanya kegeramanku ini sudah tak dapat lagi aku tahan. Ingin sekali aku meluapkannya. Tetapi entah pada siapa.
Rasanya luka ini terkelupas lagi. Luka yang sudah hampir aku lupakan ini tergores lagi oleh karenanya. Sakit. Sungguh sakit. Perih rasanya.
Aku coba memulihkannya. Aku coba menyembuhkannya. Tetapi rasanya tak ada yang dapat menyembuhkan luka ini. Sungguh dalam. Sungguh sakit.
Ku rasakan sakitnya sampai ke pori-pori kulit terdalam. Tak lagi di epidermis. Tetapi lebih dalam lagi.
Rasanya sistem imunku ini sudah tak dapat menghancurkan dan membunuh bakteri dan virus yang melukai hatiku.
Terlambat sudah.
Bodoh, aku memang bodoh.
Membiarkan mereka masuk dalam kehidupan kami. Mengapa aku lakukan itu?
Sungguh, aku benar-benar telah merusak semuanya.
Seharusnya sekarang aku masih bersama mereka. Tertawa dan berbagi bersama.
Seharusnya aku masih memiliki kesempatan untuk menghapus semua kesedihan dan air matanya.
Seharusnya aku yang memberikan tissue dan pundakku untuk ia bersandar.
Tetapi keadaan telah berubah.
Bukan karena dia maupun mereka.
Tetapi karena diriku.
Bagaikan gelas yang pecah.
Angin yang bertiup.
Air mengalir.
Begitulah perbuatanku.
Sudah tak dapat ku kembalikan seperti sedia kala.
Kebodohanku ini sungguh tak dapat lagi aku toleransikan.
Kekeliruanku, kecerobohanku.
Tak seharusnya aku memberinya kesempatan untuk bersamamu.
Tak seharusnya aku membiarkan kalian semakin dekat dan berjalan perlahan pergi meninggalkanku
Tak seharusnya aku memberinya celah untuk mengambilmu dariku
Dari sisi dan pelukanku
Dari dekapanku
Dari tanganku
Tangan yang semula kau pegang erat
Tangan yang semula kau pakai tuk hapus pilumu
Tangan yang kau sandari ketika kau butuh sandaran
Tangan yang selalu berusaha ada untukmu
Tangan kini telah engkau campakkan begitu saja
Kemana engkau wahai sahabatku?
Bukankah dulu engkau pernah berjanji untuk selalu bersamaku?
Kemana sudah air mata kesedihanmu?
Yang semula kau pakai untuk menangisi kepergianku
Kemana semua kata-kata manismu untuk tak meninggalkanku?
Yang kau gunakan untuk menghiburku,
Kemana sudah kenangan yang kita miliki?
Apakah hubungan kita kini sudah tak bermakna?
Karena jarak yang memisahkan?
Atau karena intelejensi yang kita miliki tak sama?
Atau karena hobi dan kesenangan kita berbeda?
Sungguh hanya karena itu?
Sungguh miris hubungan ini.
Untuk apa kita membangun hubungan ini selama bertahun-tahun.
Beratus-ratus minggu kita lalui bersama.
Beribu-ribu hari kita jalani bersama.
Berjuta-juta menit penuh tawa dan kesedihan.
Berakhir dengan tahun-tahun kepahitan.
Yang kini hanya tinggal kenangan.
Atau hanya memori belaka?
Yang sudah hampir tak pernah kau ingat lagi.
Atau memang yang sudah terlupakan.
Selamat tinggal wahai kawan lama.
Semoga kalian berbahagia bersama.
Bersatu dalam segala kondisi.
Tak meninggalkan dan melupakan satu dengan yang lain.
Ku doakan yang terbaik untuk kalian.
Aku mengasihimu.
Puisi dan karangan ini dibuat untuk seseorang, hanya seseorang, dan didedikasikan kepada seseorang yang sangat amat ku kasihi dan sudah ku anggap seperti halnya saudaraku sendiri. Aku sadar aku sepatutnya tak semudah itu menyayangi orang itu, seperti dengan mudahnya ia melupakanku. Tetapi aku tak bisa berhenti menyayanginya, bahkan menganggapnya tak ada. Aku mengasihimu kawan. Tak peduli kau membacanya atau tidak. Tak peduli kau mengasihiku atau tidak.
Rasanya luka ini terkelupas lagi. Luka yang sudah hampir aku lupakan ini tergores lagi oleh karenanya. Sakit. Sungguh sakit. Perih rasanya.
Aku coba memulihkannya. Aku coba menyembuhkannya. Tetapi rasanya tak ada yang dapat menyembuhkan luka ini. Sungguh dalam. Sungguh sakit.
Ku rasakan sakitnya sampai ke pori-pori kulit terdalam. Tak lagi di epidermis. Tetapi lebih dalam lagi.
Rasanya sistem imunku ini sudah tak dapat menghancurkan dan membunuh bakteri dan virus yang melukai hatiku.
Terlambat sudah.
Bodoh, aku memang bodoh.
Membiarkan mereka masuk dalam kehidupan kami. Mengapa aku lakukan itu?
Sungguh, aku benar-benar telah merusak semuanya.
Seharusnya sekarang aku masih bersama mereka. Tertawa dan berbagi bersama.
Seharusnya aku masih memiliki kesempatan untuk menghapus semua kesedihan dan air matanya.
Seharusnya aku yang memberikan tissue dan pundakku untuk ia bersandar.
Tetapi keadaan telah berubah.
Bukan karena dia maupun mereka.
Tetapi karena diriku.
Bagaikan gelas yang pecah.
Angin yang bertiup.
Air mengalir.
Begitulah perbuatanku.
Sudah tak dapat ku kembalikan seperti sedia kala.
Kebodohanku ini sungguh tak dapat lagi aku toleransikan.
Kekeliruanku, kecerobohanku.
Tak seharusnya aku memberinya kesempatan untuk bersamamu.
Tak seharusnya aku membiarkan kalian semakin dekat dan berjalan perlahan pergi meninggalkanku
Tak seharusnya aku memberinya celah untuk mengambilmu dariku
Dari sisi dan pelukanku
Dari dekapanku
Dari tanganku
Tangan yang semula kau pegang erat
Tangan yang semula kau pakai tuk hapus pilumu
Tangan yang kau sandari ketika kau butuh sandaran
Tangan yang selalu berusaha ada untukmu
Tangan kini telah engkau campakkan begitu saja
Kemana engkau wahai sahabatku?
Bukankah dulu engkau pernah berjanji untuk selalu bersamaku?
Kemana sudah air mata kesedihanmu?
Yang semula kau pakai untuk menangisi kepergianku
Kemana semua kata-kata manismu untuk tak meninggalkanku?
Yang kau gunakan untuk menghiburku,
Kemana sudah kenangan yang kita miliki?
Apakah hubungan kita kini sudah tak bermakna?
Karena jarak yang memisahkan?
Atau karena intelejensi yang kita miliki tak sama?
Atau karena hobi dan kesenangan kita berbeda?
Sungguh hanya karena itu?
Sungguh miris hubungan ini.
Untuk apa kita membangun hubungan ini selama bertahun-tahun.
Beratus-ratus minggu kita lalui bersama.
Beribu-ribu hari kita jalani bersama.
Berjuta-juta menit penuh tawa dan kesedihan.
Berakhir dengan tahun-tahun kepahitan.
Yang kini hanya tinggal kenangan.
Atau hanya memori belaka?
Yang sudah hampir tak pernah kau ingat lagi.
Atau memang yang sudah terlupakan.
Selamat tinggal wahai kawan lama.
Semoga kalian berbahagia bersama.
Bersatu dalam segala kondisi.
Tak meninggalkan dan melupakan satu dengan yang lain.
Ku doakan yang terbaik untuk kalian.
Aku mengasihimu.
Puisi dan karangan ini dibuat untuk seseorang, hanya seseorang, dan didedikasikan kepada seseorang yang sangat amat ku kasihi dan sudah ku anggap seperti halnya saudaraku sendiri. Aku sadar aku sepatutnya tak semudah itu menyayangi orang itu, seperti dengan mudahnya ia melupakanku. Tetapi aku tak bisa berhenti menyayanginya, bahkan menganggapnya tak ada. Aku mengasihimu kawan. Tak peduli kau membacanya atau tidak. Tak peduli kau mengasihiku atau tidak.
Subscribe to:
Posts (Atom)