It is like dreaming a great life, a great future, a miraculous thing, that will never happen.
Things aren't running well as what we expected.
Future is an unpredictable thing that keep going without endings.
And that's why I keep on daydreaming.
Keep thinking for a better future.
Keep imagining beautiful thing that is unlikely to happen.
Girls are like princesses who live in a candy land.
We love fairy tales.
We love being taken to a romantic places with romantic things.
We love a romantic man.
We love the one who truly loves us.
"Will you marry me?", maybe is the prettiest sentences in the world.
"I will marry you one day.", is the best promise a man could make.
"I am totally serious in this relationship. I am not going to play with love. I am the one who will marry you. The one who will give you a ring and put it on your fingers one day. The one who will call you as my wife. The one who will live with you forever. The one who will help you to take care of our children one day. Until we get old and death separate us. Because nothing in this world which is stronger than our love that have the strengths to separate us."
Such a beautiful thing I could ever imagine. Perhaps a man will say that sweet words to me, prove it true, and have such a great life as what I keep on imagining. Even though it seems like just a fairy tale, just a dream, just an imaginary, I hope one day it comes true. Because dream of a beautiful life is like dreaming of a great career, so I am sure it is likely to happen one day!
"Keep dreaming, but don't ever forget to reach your dream!" - @ViDarmalim
Sometimes people keep their feelings by themselves. Some people express it by singing or dancing. Some express it by writing. And sometimes people need to read and understand the other people feelings either by writing or reading♡ We need to think logically about how people feel, how the feelings come, and how to solve stupid feelings~
Tuesday, 14 October 2014
Monday, 13 October 2014
I don't care about anything else except loving you!
People may believe love at the first sight
But I fall in love with him every time I see him
People may say love is blind
But I believe my eyes looked at him,
and so does him
People may say love is crazy
But I guarantee, I am crazier when I am with him
There are million even billion men outside
There are thousands loves spread among this world
There are hundreds people know me longer than him
But there is only him who loves me with his truly heart
I might fall for times
I might hurt for times
I might drop my tears for uncounted times
Heart may be bruised
And now be healed because of his attendance in my life
He may not be perfect
He may not always be a great man
That I can always be proud of
He may not a genius guy
Or even a popular man at school or even the society
But what else I could do?
If my heart has chosen him
Him, the man who stand by me
The man who stay with me in every situations
The man who holds my hand when I'm afraid
The man who hugs me when I need warmth
The man who take care of me when I was ill
The man who loves me, now, and forever
No matter how hard I tried
How long I force myself
To dismiss this feeling away
To disobey him
To not recon what my heart was trying to say
I was totally failed
The more I try,
The more I hurt
I just can't remove this feeling
That I really love him
Like the way he loves me
I am so grateful that I realized
He has the same feeling as mine
And even deeper than mine
No matter how many times I asked him to go away from my life
No matter how many times I've hurt him
No matter how many times his tears drops because of me
He never stops loving me
I realized that I could get any further from him
I realized that he is so serious with everything he said
I don't know what I can do to pay back what he has done for me
For everything he sacrifices for me
I just can love him more than I can say
Because this feeling can't hold on anymore
And every nights I spent
Are the best dream ever
We keeps on imagining how our future will be
That I never think so far there
But with him, everything seems real
And each morning I gets up
Are the best beginning of life ever
I never stop fall in love again and again with him
Because the love he gives to me will never stop
And show that love is true
He is just more than enough for me
To be the helper in every problems I have
To cherish me in every situations
To wipe my tears when I am crying
He is my eyes, to see our future
He is my ears, to hear our children' laughter
He is my hands, to hold our children hands
He is my legs, to stand proudly when we are one
I just love him, more than anything else.
I am totally in love with you, my dear
I am totally afraid of losing you, my boy
I want you to be here, my darling
I want you to promise me, my only one
To always be mine, forever.
Because you are the only thing I need
Thank heaven to send an angel to take care of me like him
"You may fall in love in a different way, or in a different period. But when you really fall in love with the one you really love, they don't ask how faithful you'll be, but you will automatically be faithful and be loyal to them." - @ViDarmalim
Pantai Sejuta Kenangan
Angin berhembus kencang menemani malam
Awan biru kini berubah menjadi kelam
Kini yang tersisa hanyalah
Suara ombak yang deras
Dan bulan bulat temani malam gelap
Aku memandang kearah laut
Tak henti hentinya aku memandanginya
Ku ratapinya seorang diri
Tanpa ada lagi yang menemani
Seketika aku teringat
Pancaran bayangan wajahnya
Tat kala ia bersamaku
Yang selalu setia menemani hari-hari dan detik-detikku
Oh Tuhan
Mengapa begitu cepat kau ambil dia?
Dirinya yang aku cinta dan aku sayang
Mengapa tak kau biarkan kami memadu kasih ini
Sedikit lebih lama lagi
Di pantai lepas laut indah ini
Aku mengenang dirinya
Dan sejak malam ini sampai selamanya
Kan selalu ku kenang dirinya
Awan biru kini berubah menjadi kelam
Kini yang tersisa hanyalah
Suara ombak yang deras
Dan bulan bulat temani malam gelap
Aku memandang kearah laut
Tak henti hentinya aku memandanginya
Ku ratapinya seorang diri
Tanpa ada lagi yang menemani
Seketika aku teringat
Pancaran bayangan wajahnya
Tat kala ia bersamaku
Yang selalu setia menemani hari-hari dan detik-detikku
Oh Tuhan
Mengapa begitu cepat kau ambil dia?
Dirinya yang aku cinta dan aku sayang
Mengapa tak kau biarkan kami memadu kasih ini
Sedikit lebih lama lagi
Di pantai lepas laut indah ini
Aku mengenang dirinya
Dan sejak malam ini sampai selamanya
Kan selalu ku kenang dirinya
Saturday, 6 September 2014
Rajutan Kasih di Surabaya
Surabaya, kota indah, sejuta pesona
Surabaya, kota kecil, sejuta cerita
Surabaya, jauh di timur, sejuta legenda
Di Surabaya-lah Ibu Risma berdiri dan bekerja
Di Surabaya-lah legenda dan adat kedaerahan masih ada
Dan disitulah kini aku berada
Dahulu ku kira, Surabaya hanyalah kota biasa
Namun aku salah..
Surabaya, kota dimana kisahku mulai terajut
Mungkin sakit di awal, ketika benang rajutan itu ditusukan
Namun semakin dijalani, semakin tampak hasil yang indah
Perlahan demi perlahan aku melihat keindahan dari rajutan itu
Sungguh aku tak menyangka
Disinilah mulai terbentuk persahabatan yang indah
Yang saling bergandengan tangan, berjalan bersama meski menuju tujuan yang berbeda
Ya.. kami tak sama, tapi kami satu
Kami memiliki cerita tersendiri, tapi kami berbagi
Surabaya, kota kecil, sejuta cerita
Surabaya, jauh di timur, sejuta legenda
Di Surabaya-lah Ibu Risma berdiri dan bekerja
Di Surabaya-lah legenda dan adat kedaerahan masih ada
Dan disitulah kini aku berada
Dahulu ku kira, Surabaya hanyalah kota biasa
Namun aku salah..
Surabaya, kota dimana kisahku mulai terajut
Mungkin sakit di awal, ketika benang rajutan itu ditusukan
Namun semakin dijalani, semakin tampak hasil yang indah
Perlahan demi perlahan aku melihat keindahan dari rajutan itu
Sungguh aku tak menyangka
Disinilah mulai terbentuk persahabatan yang indah
Yang saling bergandengan tangan, berjalan bersama meski menuju tujuan yang berbeda
Ya.. kami tak sama, tapi kami satu
Kami memiliki cerita tersendiri, tapi kami berbagi
Namun kami bersahabat, menjalin hubungan, kini, nanti, dan selamanya
Ya Tuhan..
Izinkanlah kami selalu bersatu
Meskipun kelak kami akan terpisah karena mengejar cita dan mimpi kami
Tapi kami akan selalu bersama
Di dalam lubuk hati terdalam kami
Di kota Surabaya inilah cinta kami berpadu
Di kota inilah hati kami menyatu
Dan ini kota ini jugalah kisah kami dikenang selalu..
Ya Tuhan..
Izinkanlah kami selalu bersatu
Meskipun kelak kami akan terpisah karena mengejar cita dan mimpi kami
Tapi kami akan selalu bersama
Di dalam lubuk hati terdalam kami
Di kota Surabaya inilah cinta kami berpadu
Di kota inilah hati kami menyatu
Dan ini kota ini jugalah kisah kami dikenang selalu..
Friday, 22 August 2014
Horror Story of Mine
This is my own story. I experienced it by myself. I remembered it clearly. It was amazing at first, but everything changed when I realized that it wasn’t a human or even the same creature as me. This happened when I was in the fourth grade of primary school in Medan, North Sumatra.
It was a very sunny day. The sun rose a lot and everyone was very busy in the class. I kept on doing my tasks that the teacher gave to us to submit it on that day. I tried to finish it faster than any other could so I could take a rest before the next subject. But unfortunately, the class was very hot and we couldn’t concentrate well. The air conditioner didn’t work really well so that we opened the door to let the air in. After a while, I saw a little girl came in to our class. She was so beautiful in white dress. Her hair was black and long, and of course, she had a sweet and friendly smile.
I was sitting in the corner of the class in the front row beside the door which she used to enter to my class. She smiled at me, and I smiled back in a friendly way. She sat down in the bench in front of my class which was used to help the teacher wrote in the white board, so the teachers and students could write on and reached the board higher than they could. She sat politely, looking around, and seemed like she was trying to find someone in my classroom. My instinct directly asked me to chat her, and so I did. My sights totally didn’t change. I looked at her and asked why she was in my classroom and what she was going to do there. I said hi with a big smile and she replied me friendly. I was so happy that time seeing a beautiful girl that wasn’t arrogant at all. We talked much but I didn’t remember what we were talking about. Isn’t it weird?
My friend, who sat next to me, suddenly pinched me and I suddenly shocked and realized that the girl was gone. She was disappeared! I wondered where she was but my friend asked me why I was smiling that time. I said I met a beautiful and friendly girl who sat in the class a few moment ago. But my friend denied that there was some other people entered the class since he class started. I tried to explain and describe about that girl to my chair mate but she still didn’t trust my story. When I told the same story to my other friends, they said that the building that we were using as our class and the primary building used to be a place of graveyards since the Japanese colonized Indonesian people. And my entire school buildings used to be the hospital of Japanese in Indonesia. It was frightening and I tried not to believe in that story, but how couldn’t I? Even my mom and dad said that my school was an old school yet the best school in Medan. It has been built since Japan colonized Indonesia and after Indonesia has announced as an independence country.
So, do you believe in my story? It depends on you whether you want to believe on it or not, but it is true that it happened to me a couple years ago and I still remember clearly how friendly that girl smiling back at me.
It was a very sunny day. The sun rose a lot and everyone was very busy in the class. I kept on doing my tasks that the teacher gave to us to submit it on that day. I tried to finish it faster than any other could so I could take a rest before the next subject. But unfortunately, the class was very hot and we couldn’t concentrate well. The air conditioner didn’t work really well so that we opened the door to let the air in. After a while, I saw a little girl came in to our class. She was so beautiful in white dress. Her hair was black and long, and of course, she had a sweet and friendly smile.
I was sitting in the corner of the class in the front row beside the door which she used to enter to my class. She smiled at me, and I smiled back in a friendly way. She sat down in the bench in front of my class which was used to help the teacher wrote in the white board, so the teachers and students could write on and reached the board higher than they could. She sat politely, looking around, and seemed like she was trying to find someone in my classroom. My instinct directly asked me to chat her, and so I did. My sights totally didn’t change. I looked at her and asked why she was in my classroom and what she was going to do there. I said hi with a big smile and she replied me friendly. I was so happy that time seeing a beautiful girl that wasn’t arrogant at all. We talked much but I didn’t remember what we were talking about. Isn’t it weird?
My friend, who sat next to me, suddenly pinched me and I suddenly shocked and realized that the girl was gone. She was disappeared! I wondered where she was but my friend asked me why I was smiling that time. I said I met a beautiful and friendly girl who sat in the class a few moment ago. But my friend denied that there was some other people entered the class since he class started. I tried to explain and describe about that girl to my chair mate but she still didn’t trust my story. When I told the same story to my other friends, they said that the building that we were using as our class and the primary building used to be a place of graveyards since the Japanese colonized Indonesian people. And my entire school buildings used to be the hospital of Japanese in Indonesia. It was frightening and I tried not to believe in that story, but how couldn’t I? Even my mom and dad said that my school was an old school yet the best school in Medan. It has been built since Japan colonized Indonesia and after Indonesia has announced as an independence country.
So, do you believe in my story? It depends on you whether you want to believe on it or not, but it is true that it happened to me a couple years ago and I still remember clearly how friendly that girl smiling back at me.
Tuesday, 29 July 2014
Kanker Rindu
Kangen. Satu kata yang penuh makna. Kangen itu rasa. Kangen itu rindu. Kangen itu ada karena kenangan indah. Kangen itu sangatlah sulit untuk dideskripsikan. Penuh dengan makna dan kenangan. Memori-memori antar dua atau bahkan lebih orang yang menghubungkan rasa itu. Sulit, ya sangat sulit. Aku yakin sekali semua orang pasti pernah merasakan rasa kangen itu sendiri. Entah bagaimana rasa itu muncul aku pun tak mengerti. Rasa kangen itu datang dan pergi begitu saja. Tak ada sebab, akibat, dan cara mengatasi yang jelas. Dokter rindu? Mungkin itu yang dibutuhkan sekarang. Aku berusaha keras untuk menghilangkan rasa rindu yang ku derita, namun tak mudah. Rindu itu seperti penyakit kanker dan tumor. Semakin dibiarkan akan semakin menjalar. Namun jika kita terlarut di dalam kesedihan karena kerinduan, rasa rindu itu bahkan akan semakin parah dan semakin sulit untuk terobati. Lalu apa yang dapat kita lakukan? Samakan saja rasa rindu atau kangen itu dengan penyakit. Kita harus bangkit dari rasa rindu itu, carilah kegiatan-kegiatan yang dapat membuat kita lupa akan rasa rindu itu sejenak. Ada waktunya bagi kita untuk mengobati kerinduan itu, namun bukan setiap saat. Kita tetap harus menikmati indahnya kehidupan kita. Sesekali teringat akan rasa rindu itu wajar. Sesekali jatuh ke dalamnya itu sangatlah wajar. Kita semua ini adalah orang-orang yang masih mempunyai hati sehingga kita dapat merasakan rasa rindu, sakit, bahkan jatuh cinta. Nikmatilah masa mudamu, kesedihan yang hadir membuat kita semakin dewasa. Cobaan dan tantangan yang muncul membuat kita semakin tegar. Kesibukan yang ada membuat kita semakin profesional dalam melakukan segalanya. Jadi nikmati sajalah kerinduan-kerinduan yang singgah dalam hidupmu, karena dengan munculnya kerinduan itu membuktikan bahwa kamu masih memiliki orang-orang yang berharga dalam hidupmu yang masih dapat kamu rindukan dan mungkin saja orang itu juga sangat merindukanmu.
Thursday, 19 June 2014
Ku Jatuh Hati Pada Kentut KeLIMAmu
*PREETTT*
"Uh bau sekali! Kentut siapa sih ini? Kok bau banget?", Igna mencium bau yang sangat tidak enak.
*glek*
Isabella tertegun. Perutnya yang kala itu sedang sangat mulas dan tidak tahan lagi untuk mengeluarkan "zat-zat kimia" itu hanya bisa diam karena menahan malu.
"Aduh jangan sampai ada yang mengetahui bahwa akulah yang sudah kentut barusan. Malu banget pasti.", kata Isabella dalam hati. Tidak lama kemudian, terdengar lagi bau kentut susulan.
PREETTT
"Buset dah ada kentut susulan! Kayak gempa aja. Bau banget kelas ini. Mau berapa kali kentut sih?!", teriak Ricky setengah kesal.
"Bagaimana jika kita cari tahu saja asal mula bau kentut ini? Mumpung gurunya belum datang nih.", usul Roy.
"Iya tuh! Benar apa yang dikatakan Roy!", Sheila mendukung usul yang diberikan Roy dari ujung kelas.
"Ya sudah, tunggu apalagi? Ayo periksa saja sebelum ada kentut susulan. Bisa mati anak kelas kita kalau begini terus!", Igna memimpin pasukan pemeriksaan kentut pada pagi hari itu.
Igna dan Ricky, selaku ketua dan wakil ketua kelas XI IPA 1, segera melakukan pemeriksaan secara cepat. Isabella sangat ketakutan bahwa hal itu akan terungkap dan akan membuatnya semakin malu. Bahkan ia akan menjadi bahan olokan satu kelas - oh tidak, atau mungkin lebih? Saat pemeriksaan sedang berlangsung, terdengar lagi suara kentut yang ketiga. Untungnya suara kentut yang ketiga ini frekuensi bunyinya kecil dan Igna tidak mendengarkannya.
"Kamu ya Bel yang kentut?", tiba-tiba terdengar suara yang sangat mengagetkan Isabella.
"AAA!!", Isabella berteriak karena kaget.
"Kamu kenapa Bel?", teriak Igna dari kejauhan yang sedang sibuk memeriksa dari mana asal bau itu.
"Eh, nggak ada apa-apa kok Na. Hehe", Isabella tersenyum terpaksa.
"Oh, ya su--"
Belum selesai mendengar jawaban dari Igna, Eltia kembali mempertanyakan hal yang sama kepada Isabella.
"Ngaku saja Bel, aku tidak akan beri tahu siapapun kok. Apalagi Igna.", Eltia membujuk.
*PREETT*
"Uh Bel, kamu kentut lagi? Kok bau banget sih. Malah sudah empat kali. Kamu kenapa? Sakit?"
"Iya nih El, perutku mulas sekali sejak kemarin malam. Padahal aku tidak makan yang aneh-aneh. Aduhh duhh, mulas lagi, jangan sampe aku kentut lagi. Bisa malu aku.", Isabella menahan perutnya yang sakit itu.
"Eh sebentar Bel, jangan kentut dulu. Nanti aku pingsan gimana?!", Eltia panik.
*PREETT*
"Aduh leganya. Perut sudah tidak mulas lagi.", Isabella tersenyum lega.
"Kamu lega! Aku hampir saja mati karena kentutmu itu!", Eltia menutup hidungnya menahan bau menyengat itu.
"Hehhh!! Pelan-pelan El! Jangan sampai ada orang lain yang tahu. Kamu diam saja ya! Nanti aku traktir deh.", Isabella berusaha menyogok Eltia.
Untung saja, saat Igna dan Ricky akan menghampiri barisan Isabella dan Eltia untuk melakukan pemeriksaan, Bu Ratna segera masuk ke kelas kemudian melangsungkan pelajaran pada pagi hari itu. Mereka pun melanjutkan pelajaran dengan ramai karena tidak mendapati pelaku pembuangan 'gas beracun' itu. Dengan diliputi rasa penasaran, akhirnya mereka berusaha melupakannya. Saat pelajaran usai, berbondong-bondong mereka ke kantin untuk makan dan kembali mengisi energi mereka sebelum kembali belajar di kelas yang cukup menguras tenaga dan energi.
"Bel, kita lagi makan nih. Jangan kentut untuk keenam kalinya, ya. Bisa keracunan aku nanti.", Eltia menyeletuk dengan polosnya..
"Hehh, jangan bilang begitu lagi. Itu kan sudah berlalu. Jangan diungkit lagi. Itu accident tau! Kita harus move on! Hahahhaa", Isabella membela diri.
"Ini benar-benar hebat Bel, aku baru tahu ada orang yang bisa kentut sampai lima kali sepertimu, dan berturut-turut pula. Hebat!", Eltia tertawa terbahak-bahak.
Tanpa disadari, Igna yang duduk tepat di belakang Isabella mendengar perbincangan mereka dan kaget mendengar ucapan itu.
"Oh jadi yang kentut daritadi itu kamu Bel!", Igna langsung menyela pembicaraan mereka. Isabella dan Eltia hanya bisa terdiam, sedangkan Roy dan Ricky juga beberapa orang di belakangnya tertawa terbahak-bahak menertawakan Isabella.
Isabella kehabisan kata-kata. Ia sudah tidak tahu mau ditaruh dimana mukanya. Sungguh, mukanya berubah menjadi merah. Bukan karena terpesona melihat Igna yang mengajaknya berbicara, tetapi menahan malu karena aibnya harus diketahui oleh banyak orang, terlebih orang yang disukainya. Isabella yang kala itu tida tahu harus berbuat apa langsung pergi meninggalkan semuanya dan ke halaman sekolah. Disana ia duduk dan menangis karena menahan malu. Mungkin menyendiri memang lebih baik dibandingkan harus berada di tempat ramai kemudian ditertawakan. Eltia yang kala itu merasa bersalah segera beranjak dan menyusul Isabella dan meminta maaf atas kecerobohannya. Namun sayang, Igna dan Ricky sungguh tidak menyadari bahwa Isabella sedang sedih saat itu. Mereka tetap menertawakannya bahkan menyebarkannya ke anak-anak di kelas.
Isabella memutuskan untuk menerima permintaan maaf dari Eltia karena mereka adalah teman dekat. Untung apa menyimpan dendam, pikirnya. Namun ketidakpekaan yang dimiliki Igna sungguh sudah memilukan hati Isabella. Bagaimana tidak? Igna merupakan sosok seorang pria yang disukai oleh Isabella sejak pertama mereka bertemu. Untung berbincang bersama saja hampir tidak mungkin. Dan ketika Igna mengajaknya untuk berbincang malah membicarakan hal yang memalukan.
"Sudahlah, lupakan saja. Itu memang tidak disengaja.", pikirnya. Kemudian beranjak dan kembali ke kelas.
Tak disangka, ketika Isabella dan Eltia memasuki ruang kelas, kelas itu sudah gempar dengan berita kentut pagi itu. "Ini semua pasti ulah Igna.", Isabella geram.
"Sabar Bel, sabar.", Eltia berusaha menenangkan.
"Eh awas, jangan menghalangi jalan dong. Ini sempit tau.", Isabella berusaha menerobos jalan dengan muka kusutnya.
"Iya jangan halangi jalan Isabella.", Igna membantu. "Nanti dikentutin loh! Hahahaha.", baru saja Isabella mengira bahwa Igna, sang pujaan hati, akan membantunya, saat itu jugalah Igna semakin menyakitkan hatinya.
"Eh Roy, bereskan meja Putri Kentut, Ms. Isabella dong. Kalau berantakan dia akan ngamuk kemudian kita akan dikentuti sampai mati.", Igna meledek lagi.
"Baik boss! Demi Putri Kentut pasti ku lakukan! Kalau tidak nanti ada bau-bau tidak enak lagi! Hahaha"
Suasana hati Isabella semakin panas. Rasanya ia ingin membanting segalanya, tapi diusahakan untuk sabar. Hari itu ia lewati dengan penuh kesabaran. Untung saja Isabella bukanlah orang yang mudah meledak-ledak. Sehingga ia dapat menahan amarahnya dan tetap berusaha tersenyum sampai akhirnya jam pulang sekolah.
=^o^=
Berbulan-bulan lamanya Isabella dijuluki dengan julukan kentut dan semacamnya. Semakin lama ia semakin terbiasa dengan julukan itu. Pada awalnya memang memalukan. Ya, tetapi ada juga hikmahnya. Dengan adanya kejadian itu, ia semakin akrab dan dekat dengan Igna. Mungkin benar kata orang, "Ada hikmah dibalik segala kejadian." Isabella yang hampir tidak mungkin berbincang dengan Igna, sekarang menjadi mungkin. Bahkan sekarang mereka semakin dekat dan akrab. Tak jarang mereka didapati sedang berduaan untuk sekadar berbincang maupun menertawakan diri mereka masing-masing. Sampai suatu hari, Igna memberanikan diri untuk mengajak Isabella ke halaman sekolah bersama dengan alasan ingin memberikan sesuatu di hari ulang tahunnya. Isabella pun mengiyakannya.
"Kamu tahu, ketika aku mengetahui bahwa kamulah pelaku kejadian kentut itu aku sungguh kaget. Tapi aku bangga melihat kamu yang sabar menghadapi segala ledekan yang terlontar baik dari mulutku maupun teman-teman. Di hari ini, di ulang tahunmu yang ketujuh-belas, aku mewakili seluruh teman-teman, meminta maaf untuk segala ledekan itu ya.", kata Igna dengan suara yang mendadak halus.
"Apaan sih Na? Santai ajalah. Udah berlalu. Lagian dengan adanya ledekan itu teman-teman sekelas juga tampak bahagia dan bahkan aku menjadi akrab dengan beberapa orang yang bahkan sebelumnya aku tidak kenal. Umm.. termasuk kamu Na.", Isabella tersenyum.
Igna meraih tangan Isabella dan bersujud di depannya. "Kamu tahu, cinta itu layaknya seperti kentut. Semakin kamu menahannya akan semakin sakit. Cinta itu ibarat kentut, mungkin awalnya tidak enak, tetapi setelah dinyatakan itu sangat melegakan hati. Cinta itu seperti kentut, kita tidak dapat memprediksikan kapan ia keluar atau memprediksi dimana dan kapan ia akan keluar. Menurut teman-teman kentut itu identik dengan kamu Bel, ya begitupun juga dengan cintaku. Sangat identik dengan kamu. Kamulah cintaku. Aku tidak peduli kamu percaya pada perkataanku atau tidak. Tapi itu sungguh dari hatiku."
Perkataan itu sungguh membuat hati Isabella luluh kemudian tersenyum pada Igna dan meraihnya untuk berdiri, dan berkata, "Jika kamu menyamakan cinta dengan kentut, maka kamulah kentutku."
Isabella dan Igna terdiam sejenak dan tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yang dilontarkan Isabella beberapa saat sebelumnya. Setelah mereka puas tertawa, Igna melanjutkannya kembali, "Kalau begitu, maukah kamu menjadi pacarku?"
"No.", Isabella menjawah dengan yakin. Igna tertegun. "T..ta..tapi--"
"Aku maunya menjadi kentut sekaligus cintamu.", Isabella tersenyum.
Igna sungguh bahagia kemudian langsung memeluk Isabella dengan bahagia. Ya, siang itu menjadi siang yang sangat menyenangkan dan membahagiakan bagi keduanya.
THE END
Saturday, 14 June 2014
Would You Mind Dancing With Me?
Mentari bersinar terang menyinari balkon kamarku. Jam wekerku berbunyi sangat kencang. Dengan terpaksa aku bangun dan meraih jam wekerku dan mematikannya. Sungguh berat bagiku untuk beranjak dari kasurku. Rasanya aku ingin tidur lagi. Hoamm.. aku menguap beberapa kali. Sambil mendengar teriakan dari bunda, aku berusaha bangun dan bergegas mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi, aku bergegas menghabiskan sarapan yang disediakan bunda dan merapikan segala keperluan sekolah dan bersiap untuk berangkat. Namun dalam sekejap, matahari yang bersinar cerah dan terang ditutupi oleh awan gelap dan turun hujan deras. Aku masuk ke dalam, meminta bunda untuk mengantarkanku ke sekolah. Bunda pun bersiap-siap dan memanaskan mesin mobil kemudian berangkat.
=^o^=
Di sepanjang perjalanan, aku melihat jalan yang basah akibat hujan yang melanda. Aku pun terhanyut dalam lamunanku. Banyak sekali hal yang mengganjal dalam hidupku. Teringat aku pada segala kenangan masa lampauku, terpikirkan oleh kejadian masa kini. Aku membuka ponselku, melihat media jejaring sosialku.
"Yaampun!", benakku berteriak. Terpampang jelas foto pria yang pernah mengisi hatiku.
"Duh dia ganteng banget, dari dulu ga pernah ilang. Oh my God!!"
Terkenang kembali masa-masa saat kami masih bermain bersama saat kami masih kanak-kanak. Rasanya sungguh indah bersenda gurau dan mengusili satu dengan yang lainnya. Masa kanak-kanak yang penuh dengan canda tawa. Terkadang dia sangat usil dan senang mengerjaiku. Tak jarang pula aku menangis karena ulahnya dan teman-temannya. Sungguh kebersamaan yang kami lewatkan itu sungguh menggelitik perutku dan tanpa ku sadari aku tersenyum mengingat semua kejadian itu.
"Vi, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?", tanya bunda penasaran.
Sentak, aku terbangun dari lamunanku. "Gapapa kok bun. Cuma inget masa-masa SD dulu aja. Aku merindukan banyak hal.", aku menjawab jujur. Bunda hanya tersenyum kemudian diam. Aku tidak peduli, kemudian melanjutkan lamunanku.
Aku ingat persis dulu ketika teman-teman menjodohkanku dan dia. Dulu aku sangat "anti" dengan hal-hal yang berbau menjodohkan. Bahkan aku menganggap dia hanyalah teman biasa yang senang mengusiliku. Tapi entah mengapa, setelah setahun aku tidak bertemu dengannya, bahkan tidak berkomunikasi sama sekali, aku merindukannya, sangat merindukannya. Terlebih ketika teman-temanku memberitahukan aku bahwa dia benar-benar menyimpan rasa padaku. Aku semakin merindukannya. Namun apalah daya, aku tidak dapat berbuat apapun. Kami sudah terlanjur jauh, kami sudah terlanjur terpisah. Sungguh sangat disayangkan aku baru tertarik padanya ketika kami sudah jauh terpisah. Dan bayang-bayangnya masih menghantuiku.
"Padahal sudah tujuh tahun.", aku menghela nafas panjang.
"Apanya yang sudah tujuh tahun Vi?", aku tersentak ketika mendengar bunda berkata seperti itu. Tak ku sadari aku lepas kontrol.
"Emm.. ga ada apa apa kok bun. Hehehe"
Akhirnya aku pun sampai di depan gerbang sekolah. Aku pun berjalan masuk ke dalam. Sepi. Serasa seperti sekolah itu hanya berisikan aku dan para petugas saja. Tidak banyak murid yang sudah hadir. Aku berjalan perlahan menuju ruang kelasku. Terlintas lagi ketika aku berlarian bersama teman-temanku karena mereka mengusili aku saat aku sedang duduk di bangku SMP. Memang konyol, tetapi lucu. Tak henti-hentinya aku tersenyum melihat kekonyolan para lelaki konyol itu. Entah apa yang mereka konsumsi sehingga mereka menjadi begitu iseng. Namun keisengan itulah yang terus menerus membawa tawa dan senyumku tak pernah pudar dari wajahku.
Aku duduk di bangku kelas, meninjau ulang semua kehidupanku sedari aku SD hingga SMA. Tak terasa ini merupakan tahun terakhirku di bangku SMA. Beberapa minggu lagi aku akan mengikuti Ujian Nasional dan mengadakan acara perpisahan. Akankah kami berpisah selamanya? Aku hanya berharap tidak.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kelas terbuka. Cetrekk..
Sentak aku terkejut dan bangun dari lamunanku. Ternyata itu William. Pria di kelasku yang selalu datang pagi. Ia tersenyum padaku.
"Pagi Vi, melamun aja lu! Hahahaha", William menyapaku dengan ramah dan penuh senyuman. Ternyata dia memperhatikanku sedari aku melamun tadi.
"Kepo ah lu, gapapa kok. Pagi juga Wil!", aku tersenyum.
Pria itu duduk tepat di depanku. Setelah ia menaruh tasnya, ia pun keluar meninggalkanku sendirian di kelas kemudian berbincang dengan temannya yang lain. Aku melanjutkan lamunanku. Aku membayangkan betapa bahagianya hari-hariku yang diisi dengan canda tawa dan lelucon dari teman terdekatku. Pola pikirku dengan mereka mungkin berbeda. Bahkan sangat berbeda. Tetapi mereka tidak pernah mempermasalahkan itu. Bahkan kami saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Kekonyolan yang kami perbuat pun benar-benar diluar dugaanku. Ya, inilah kami. Kami memang apa adanya satu dengan yang lain. Terbuka dan segala kebanyolan yang terjadi kadang kala diluar akal sehat orang lain tetapi menarik bagi kami.
Terbayang lagi masa-masa SMP ku yang ku habiskan untuk berlari-larian dan saling mengisengi temanku. Kami saling iseng, bahkan tak jarang kami terlihat sangat konyol dan kekanak-kanakan. Tetapi itulah yang membuat kami bahagia. Tanpa disadari hal tersebut sudah lewat bertahun-tahun lamanya. Setelah bangun dari lamunanku, kelas masih tidak begitu ramai. Aku memutuskan untuk beranjak dari tempat dudukku dan keluar dari kelas untuk sekadar menikmati pemandangan sekolah sambil menunggu teman-temanku yang lain.
"AAAA!!", seketika aku berteriak karena kaget.
"Ah ngagetin aja lu Na!", aku mengomelin Anna yang baru saja datang dan mengagetiku.
"Lagian siapa suruh lu melamun. Masih pagi juga. Kesambet setan baru tau rasa lu!", Anna menakutiku.
"Ah ga bakalan kesambet setan gue mah. Yang ada itu setan takut buat nyambet gue! Hahahaa", kami berdua pun tertawa karena kalimat yang baru saja ku lontarkan.
"Udah ah, ayo masuk kelas aja. Disini panas tau. Sekalian gue mau cerita."
"Payah ah lu gini aja lu bilang panas. Yauda ayo ke tempat gue aja ya? Udah pewe nih. Mager banget."
Anna pun menuruti keinginanku dan kami pun bercerita. Seperti biasa, perbincangan kami tidak jauh dari "pria ganteng". Hobi Anna adalah menonton film, sehingga wajar bagiku untuk mendengar seorang Anna memuji berbagai jenis pria di muka bumi ini. Seketika telepon genggamku berbunyi. Aku mengecek handphone-ku dan raut wajahku seketika berubah. "Erghh", aku menggerutu.
"Kenapa lu Vi?, tanya Anna.
"Gatau ah, bete gue."
"Loh seriusan lu kenapa? Ceritalah, masa abis dapet notif hp langsung bete sendiri?"
"Nih liat aja!", aku menyodorkan telepon genggamku.
Saat Anna melihat dan membaca pesan yang tertera di telepon genggamku, ia tertawa terbahak-bahak. Raut wajahku semakin tertekuk.
"Kok gue lagi bete malah lu ketawa sih?! Padahal gaada yang lucu!"
"Engga engga. Lucu aja, orang ngajak lu ketemuan kok malah bete. What's happening with this guy?"
"Ah lu kayak gatau gue gimana aja sih Na? Dia itu cowok yang bikin gue illfeel. Gue ga suka.", aku semakin menekuk wajahku.
"Hah?! Siapa?", Anna tersentak.
"Halah palingan si Chiko. Ya ga Vi?"
William dan teman-temannya seketika masuk dan mengagetkanku. Kalimat yang ia ucapkan barusan itu benar-benar mengagetkanku.
"Sotoy ah lu Wil. Pergi sana.", aku mengusirnya.
"Ini tempatnya William kali Vi. Yaampun justru Anna yang duduk di tempat William. Dasar cewek.", Jacob berusaha membela William.
"Ih dasar cowok bawel. Perhitungan amat sama cewek.", aku menggerutu.
William, Jacob, dan teman-temannya berusaha menghiburku dengan segala lelucon yang mereka buat. Aku dan Anna bahkan tidak dapat berhenti tertawa karena ulah mereka. Sungguh lucu. Kami menertawakan hal-hal yang konyol dan tidak penting. Tapi karena itu juga aku dapat melupakan kekesalanku. Sebelum bel tanda pelajaran berbunyi, aku memutuskan untuk menemui pria yang telah membuat aku illfeel itu dengan syarat ditemani oleh William, Jacob, dan Anna, dan jika ada sesuatu, salah satu dari William atau Jacob akan muncul dan membantuku.
Kurang lebih seperti itu hari-hariku di sekolah. Penuh kekonyolan, canda tawa, adu mulut, bahkan sesekali saling meledek satu dengan yang lain. Tetapi di saat kami saling membutuhkan, kami akan saling tolong menolong. Kami selalu ada satu dengan yang lainnya. Layaknya seorang sahabat, kami adalah teman dekat. Yang tampak saling meng-insult satu dengan yang lainnya, yang berbeda jika dilihat dari berbagai segi. Tapi kami satu.
Minggu-minggu terakhir kami lalui bersama seperti hari-hari sebelumnya. Belajar bersama, bermain, dan seperti biasa, saling mengejek. Terdengar konyol, tetapi jika satu hari saja tidak melihat mereka mengusili seseorang atau mengejek seseorang - meskipun itu aku korbannya, akan terlihat aneh. Kehidupan di sekolah tampak sangat hampa. Oleh karena itu, melihat hal konyol yang mereka lakukan merupakan hal yang indah bagiku, namun buruk bagi yang ter-bully. Hahaha~
Ujian Nasional pun sudah kami lewati dengan baik. Tiba saatnya hari pengumuman dan perpisahan. Segala persiapan sudah kami lakukan. Siswa-siswi lain sudah berdandan dengan baik sehingga mereka tampak tampan dan anggun saat malam perpisahan itu. William dan Jacob menjemputku dan Anna agar kami dapat sampai di tempat perpisahaan secara bersama. Mereka sungguh tampak berbeda. Hari-hari biasa yang tampak begitu cuek dan tidak begitu memperhatikan tata cara berpakaian, atau yang dapat ku kategorikan sebagai pria yang tidak begitu mempermasalahkan fashion mendadak berubah menjadi begitu berbeda. Aku bahkan melongo melihat perbedaan itu.
"Cie yang hari ini cantik dan feminim banget!", Anna menggodaku dan akupun terbangundari lamunanku.
"Apaan sih Na? Biasa aja ah. Hahahaha lu juga cantik banget.", aku tersipu malu.
"Ih ga percaya amat ini anak. Tanya aja sama William dan Jacob. Pasti mereka setuju. Ya ga?"
"Yeaapp!!", William dan Jacob menjawab secara bersamaan dan mengangguk.
Reflek aku memukul pundak mereka berdua dan menganggap mereka hanyalah sedang mengusiliku.
"Eh seriusan tau, ga percayaan amat ini cewek.", Jacob memujiku sekali lagi.
"Eaaa~ tampaknya ada yang sedang terpesona dengan kecantikannya lu Vi.", Anna dan William menggodaku sambil tertawa licik.
William meraih tangan Anna dan menggandengnya hingga masuk ke ruangan. Aku dan Jacob berjalan masing-masing. Mungkin hanya kami berdua yang tidak memiliki pasangan prom malam itu. Perpisahan itu berjalan dengan sangat mewah dan glamour. Sungguh mempesona. Mulai dari dekorasinya saja sudah sangat menakjubkanku. Saat tiba saatnya "dancing session", William berdansa bersama Anna. Aku duduk di meja makan tersenyum melihat kemesraan mereka berdua. Mereka berdua memang orang yang paling suka bercanda dan iseng, terlebih jika mereka digossipkan bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Mereka tak menghiraukan perkataan orang lain dan tetap tertawa bersama.
"Andai kehidupanku semudah mereka. Aku pasti akan sangat bahagia.", pikirku saat melihat mereka.
"Would you mind to dance with me?", seseorang mengulurkan tangannya dan mengejutkanku. Jacob. Aku kaget melihat apa yang ia lakukan. Jacob tidak banyak bicara. Dia sungguh berbeda dengan William yang jauh lebih bawel dan cerewet dibandingkan dirinya. Aku tersenyum. Dia menggenggam tanganku dan kami pun berdansa bersama. Awalnya kami agak canggung. Tapi moment itu sungguh menggelitik. William dan Anna yang melihat kejadian itu langsung menghampiri kami dan lagi-lagi meledek.
"Won't you promise me, that you'll never forget. We'll keep dancing wherever we go next.", Jacob seketika mengucapkan kalimat itu. Aku hanya tersenyum. Mulutku terbungkam tak dapat berkata lagi.
"Nothing can make us apart. Even if it is a thousand miles away. Cause my heart will be with you wherever you go.", lanjut Jacob.
"Apaan sih Cob? Lebay ah lu. Sok-sok-an gombal. Hahahaa gaya lu selangit.", aku menyela.
"Jacob mana pernah main-main sama omongannya dia ke cewek Vi.", William berusaha memperingatkanku.
"It's like catching lightning the chances of finding someone like you. It's one in a million, the chances of feeling the way we do. And with every step together, we just keep on getting better. So can I have this dance?", Jacob tersenyum.
"Oh no mountains too high enough, oceans too wide
'Cause together or not, our dance won't stop
Let it rain, let it pour
What we have is worth fighting for
You know I believe, that we were meant to be" - [Can I have this dance? - HSM]
=^o^=
Sentak aku terkejut dan bangun dari lamunanku. Ternyata itu William. Pria di kelasku yang selalu datang pagi. Ia tersenyum padaku.
"Pagi Vi, melamun aja lu! Hahahaha", William menyapaku dengan ramah dan penuh senyuman. Ternyata dia memperhatikanku sedari aku melamun tadi.
"Kepo ah lu, gapapa kok. Pagi juga Wil!", aku tersenyum.
Pria itu duduk tepat di depanku. Setelah ia menaruh tasnya, ia pun keluar meninggalkanku sendirian di kelas kemudian berbincang dengan temannya yang lain. Aku melanjutkan lamunanku. Aku membayangkan betapa bahagianya hari-hariku yang diisi dengan canda tawa dan lelucon dari teman terdekatku. Pola pikirku dengan mereka mungkin berbeda. Bahkan sangat berbeda. Tetapi mereka tidak pernah mempermasalahkan itu. Bahkan kami saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Kekonyolan yang kami perbuat pun benar-benar diluar dugaanku. Ya, inilah kami. Kami memang apa adanya satu dengan yang lain. Terbuka dan segala kebanyolan yang terjadi kadang kala diluar akal sehat orang lain tetapi menarik bagi kami.
=^o^=
Terbayang lagi masa-masa SMP ku yang ku habiskan untuk berlari-larian dan saling mengisengi temanku. Kami saling iseng, bahkan tak jarang kami terlihat sangat konyol dan kekanak-kanakan. Tetapi itulah yang membuat kami bahagia. Tanpa disadari hal tersebut sudah lewat bertahun-tahun lamanya. Setelah bangun dari lamunanku, kelas masih tidak begitu ramai. Aku memutuskan untuk beranjak dari tempat dudukku dan keluar dari kelas untuk sekadar menikmati pemandangan sekolah sambil menunggu teman-temanku yang lain.
"AAAA!!", seketika aku berteriak karena kaget.
"Ah ngagetin aja lu Na!", aku mengomelin Anna yang baru saja datang dan mengagetiku.
"Lagian siapa suruh lu melamun. Masih pagi juga. Kesambet setan baru tau rasa lu!", Anna menakutiku.
"Ah ga bakalan kesambet setan gue mah. Yang ada itu setan takut buat nyambet gue! Hahahaa", kami berdua pun tertawa karena kalimat yang baru saja ku lontarkan.
"Udah ah, ayo masuk kelas aja. Disini panas tau. Sekalian gue mau cerita."
"Payah ah lu gini aja lu bilang panas. Yauda ayo ke tempat gue aja ya? Udah pewe nih. Mager banget."
Anna pun menuruti keinginanku dan kami pun bercerita. Seperti biasa, perbincangan kami tidak jauh dari "pria ganteng". Hobi Anna adalah menonton film, sehingga wajar bagiku untuk mendengar seorang Anna memuji berbagai jenis pria di muka bumi ini. Seketika telepon genggamku berbunyi. Aku mengecek handphone-ku dan raut wajahku seketika berubah. "Erghh", aku menggerutu.
"Kenapa lu Vi?, tanya Anna.
"Gatau ah, bete gue."
"Loh seriusan lu kenapa? Ceritalah, masa abis dapet notif hp langsung bete sendiri?"
"Nih liat aja!", aku menyodorkan telepon genggamku.
Saat Anna melihat dan membaca pesan yang tertera di telepon genggamku, ia tertawa terbahak-bahak. Raut wajahku semakin tertekuk.
"Kok gue lagi bete malah lu ketawa sih?! Padahal gaada yang lucu!"
"Engga engga. Lucu aja, orang ngajak lu ketemuan kok malah bete. What's happening with this guy?"
"Ah lu kayak gatau gue gimana aja sih Na? Dia itu cowok yang bikin gue illfeel. Gue ga suka.", aku semakin menekuk wajahku.
"Hah?! Siapa?", Anna tersentak.
"Halah palingan si Chiko. Ya ga Vi?"
William dan teman-temannya seketika masuk dan mengagetkanku. Kalimat yang ia ucapkan barusan itu benar-benar mengagetkanku.
"Sotoy ah lu Wil. Pergi sana.", aku mengusirnya.
"Ini tempatnya William kali Vi. Yaampun justru Anna yang duduk di tempat William. Dasar cewek.", Jacob berusaha membela William.
"Ih dasar cowok bawel. Perhitungan amat sama cewek.", aku menggerutu.
=^o^=
William, Jacob, dan teman-temannya berusaha menghiburku dengan segala lelucon yang mereka buat. Aku dan Anna bahkan tidak dapat berhenti tertawa karena ulah mereka. Sungguh lucu. Kami menertawakan hal-hal yang konyol dan tidak penting. Tapi karena itu juga aku dapat melupakan kekesalanku. Sebelum bel tanda pelajaran berbunyi, aku memutuskan untuk menemui pria yang telah membuat aku illfeel itu dengan syarat ditemani oleh William, Jacob, dan Anna, dan jika ada sesuatu, salah satu dari William atau Jacob akan muncul dan membantuku.
Kurang lebih seperti itu hari-hariku di sekolah. Penuh kekonyolan, canda tawa, adu mulut, bahkan sesekali saling meledek satu dengan yang lain. Tetapi di saat kami saling membutuhkan, kami akan saling tolong menolong. Kami selalu ada satu dengan yang lainnya. Layaknya seorang sahabat, kami adalah teman dekat. Yang tampak saling meng-insult satu dengan yang lainnya, yang berbeda jika dilihat dari berbagai segi. Tapi kami satu.
Minggu-minggu terakhir kami lalui bersama seperti hari-hari sebelumnya. Belajar bersama, bermain, dan seperti biasa, saling mengejek. Terdengar konyol, tetapi jika satu hari saja tidak melihat mereka mengusili seseorang atau mengejek seseorang - meskipun itu aku korbannya, akan terlihat aneh. Kehidupan di sekolah tampak sangat hampa. Oleh karena itu, melihat hal konyol yang mereka lakukan merupakan hal yang indah bagiku, namun buruk bagi yang ter-bully. Hahaha~
=^o^=
Ujian Nasional pun sudah kami lewati dengan baik. Tiba saatnya hari pengumuman dan perpisahan. Segala persiapan sudah kami lakukan. Siswa-siswi lain sudah berdandan dengan baik sehingga mereka tampak tampan dan anggun saat malam perpisahan itu. William dan Jacob menjemputku dan Anna agar kami dapat sampai di tempat perpisahaan secara bersama. Mereka sungguh tampak berbeda. Hari-hari biasa yang tampak begitu cuek dan tidak begitu memperhatikan tata cara berpakaian, atau yang dapat ku kategorikan sebagai pria yang tidak begitu mempermasalahkan fashion mendadak berubah menjadi begitu berbeda. Aku bahkan melongo melihat perbedaan itu.
"Cie yang hari ini cantik dan feminim banget!", Anna menggodaku dan akupun terbangundari lamunanku.
"Apaan sih Na? Biasa aja ah. Hahahaha lu juga cantik banget.", aku tersipu malu.
"Ih ga percaya amat ini anak. Tanya aja sama William dan Jacob. Pasti mereka setuju. Ya ga?"
"Yeaapp!!", William dan Jacob menjawab secara bersamaan dan mengangguk.
Reflek aku memukul pundak mereka berdua dan menganggap mereka hanyalah sedang mengusiliku.
"Eh seriusan tau, ga percayaan amat ini cewek.", Jacob memujiku sekali lagi.
"Eaaa~ tampaknya ada yang sedang terpesona dengan kecantikannya lu Vi.", Anna dan William menggodaku sambil tertawa licik.
William meraih tangan Anna dan menggandengnya hingga masuk ke ruangan. Aku dan Jacob berjalan masing-masing. Mungkin hanya kami berdua yang tidak memiliki pasangan prom malam itu. Perpisahan itu berjalan dengan sangat mewah dan glamour. Sungguh mempesona. Mulai dari dekorasinya saja sudah sangat menakjubkanku. Saat tiba saatnya "dancing session", William berdansa bersama Anna. Aku duduk di meja makan tersenyum melihat kemesraan mereka berdua. Mereka berdua memang orang yang paling suka bercanda dan iseng, terlebih jika mereka digossipkan bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Mereka tak menghiraukan perkataan orang lain dan tetap tertawa bersama.
"Andai kehidupanku semudah mereka. Aku pasti akan sangat bahagia.", pikirku saat melihat mereka.
"Would you mind to dance with me?", seseorang mengulurkan tangannya dan mengejutkanku. Jacob. Aku kaget melihat apa yang ia lakukan. Jacob tidak banyak bicara. Dia sungguh berbeda dengan William yang jauh lebih bawel dan cerewet dibandingkan dirinya. Aku tersenyum. Dia menggenggam tanganku dan kami pun berdansa bersama. Awalnya kami agak canggung. Tapi moment itu sungguh menggelitik. William dan Anna yang melihat kejadian itu langsung menghampiri kami dan lagi-lagi meledek.
"Won't you promise me, that you'll never forget. We'll keep dancing wherever we go next.", Jacob seketika mengucapkan kalimat itu. Aku hanya tersenyum. Mulutku terbungkam tak dapat berkata lagi.
"Nothing can make us apart. Even if it is a thousand miles away. Cause my heart will be with you wherever you go.", lanjut Jacob.
"Apaan sih Cob? Lebay ah lu. Sok-sok-an gombal. Hahahaa gaya lu selangit.", aku menyela.
"Jacob mana pernah main-main sama omongannya dia ke cewek Vi.", William berusaha memperingatkanku.
"It's like catching lightning the chances of finding someone like you. It's one in a million, the chances of feeling the way we do. And with every step together, we just keep on getting better. So can I have this dance?", Jacob tersenyum.
"Keep your eyes locked on mine. Terharu gue sama lu Cob. Bisa juga lu gombal. Kesambet apaan lu?", aku berusaha mencairkan suasana ini.
"Nothing. You'll just so beautiful tonight. And my eyes can't go away from you."
"Tuh kan mulai lagi gombalnya. Males ah gue sama lu Cob.", aku cemberut.
"Nope, I'm serious. Don't let any frowns closed your beauty. Keep smiling dear."
Aku tertegun. Benar-benar tak bisa berkata-kata lagi. Meskipun Anna dan William tertawa terbahak-bahak dengan kejadian itu, dan bahkan kami beradu romantis di pannggung dansa, aku tetap tidak bisa banyak berkata. Namun tatapan Jacob. Aku sungguh tidak dapat menghapus ingatanku mengenai tatapan Jacob malam itu. Penuh makna. Setelah kami selesai berdansa dan bersiap untuk pulang, kami pun banyak berfoto bersama. Satu foto yang paling berkesan adalah saat aku dan Jacob sedang bergandengan tangan layaknya seorang kekasih. Sungguh lucu. Aku tidak tahu mengapa aku tidak dapat melupakan kejadian itu. Saat kami akan berpisah, aku ingat betul kalimat yang dilontarkan oleh Jacob untukku.
"Kita mungkin akan berpisah. Kita mungkin tidak akan bertemu setiap hari lagi. Kita mungkin tidak akan selalu berada di tempat yang sama seperti yang dulu kita lakukan. Tapi percayalah, kamu selalu ada di hatiku. Beritahu aku jikalau kamu ada masalah. Agar aku dapat mengusap air mata kesedihanmu menjadi sebuah senyum dan tawa yang indah yang pernah ku lihat di wajahmu. Agar aku dapat menjadi sandaran ketika kamu sedang lemah. Jangan pernah lupakan aku."
Air mataku jatuh begitu ia selesai mengucapkan kalimat itu. Aku menangis. Tanpa berpikir panjang, aku memeluknya. "Aku menyayangimu Jacob. Jangan pernah lupakan aku dan persahabatan kita.", ucapku sambil menangis. Jacob mengusap air mataku, mengusap kepalaku agar aku berhenti menangis. Dia mungkin merupakan orang yang paling sering aku usili di sekolah saat aku duduk di bangku SMA dahulu, tapi dia jugalah orang yang paling sering membantuku dan paling sabar menghadapiku. "Percayalah kita akan bertemu kembali, dan kamu akan menjadi orang yang takkan pernah aku lupakan. Semua momen berharga yang kamu ciptakan sejak kita pertama bertemu. Terutama malam ini.", aku mengakhiri pembicaraan. "Ya.", Jacob tersenyum kemudian izin untuk pulang.
'Cause together or not, our dance won't stop
Let it rain, let it pour
What we have is worth fighting for
You know I believe, that we were meant to be" - [Can I have this dance? - HSM]
Sunday, 8 June 2014
Friendship Poem - The Frightened of Losing You, Dear Bestfriend.
I am afraid to lose
a precious friend like you
You reach out for my hand
You reach out for my hand
And I'm woken from my dream
Although we're far away
Please promise me
You'll never leave me alone
And I'll promise you too
And I'll promise you too
And everyday
I keep wondering
Thinking maybe you love me
Thinking maybe you love me
Like I've always loved you
I believe that you'll be there for me
Like I always try to
You'll never leave me alone
Even if the storm come
I've never felt this way
To be so in love
To have someone there
Yet feel so greatful
To have
The one to wipe my tears
The one to say that you would never leave
The waters calm and still
My reflection is there
I see you holding me
But then you disappear
All that is left of you
Is a memory
One that only, exists in my dreams
I know that we're far apart
But I can feel it too
And it just hurts so much
To know that I can't do a thing
And deep down in my heart
Somehow I just know
That no matter what
I'll always love you
So why am I still here waiting for your presence~
I've never felt this way
To be so in love
To have someone there
Yet feel so greatful
To have
The one to wipe my tears
The one to say that you would never leave
The waters calm and still
My reflection is there
I see you holding me
But then you disappear
All that is left of you
Is a memory
One that only, exists in my dreams
I know that we're far apart
But I can feel it too
And it just hurts so much
To know that I can't do a thing
And deep down in my heart
Somehow I just know
That no matter what
I'll always love you
So why am I still here waiting for your presence~
Dear Bestfriend
Do you ever walk away from me like that?
Did you ever give up everything on me?
That you ever let me go
That you ever say you know me
That you tell me anything that's impossible
Everyday I just wondering about you
Never thought a love for you go everyday
When I'm always with you
I can't stop smiling like it seems
I have everytime to make it alright.
Did you ever give up everything on me?
That you ever let me go
That you ever say you know me
That you tell me anything that's impossible
Everyday I just wondering about you
Never thought a love for you go everyday
When I'm always with you
I can't stop smiling like it seems
I have everytime to make it alright.
Tuesday, 20 May 2014
Untukmu Sahabat
mau sampai kapan kita berteman hanya sebagai status?
orang bilang kita sahabat. orang kira kita sangat dekat.
ya memang. tapi mungkin itu dulu. sekarang? aku tidak tahu.
kita memang terpisahkan oleh jarak. kesibukan dan aktivitas tiap kita memang berbeda. tapi tak adakah sedikit waktu tersisa untuk diluangkan bersama "sahabat"?
hanya untuk berbagi cerita singkat yang mungkin konyol dan tidak penting. hanya untuk berbagi cerita bodoh yang mungkin bagi orang itu tidak lucu. hanya untuk berbagi cerita dan kejadian yang terjadi saat kita sedang tidak bersama. tidak adakah waktu singkat itu?
aku ingin tahu, seberapa sibuk tiap orang dari kita. aku ingin tahu seberapa penting arti sahabat untuk masing-masing kita. aku ingin tahu betapa penting makna diriku bagi kalian.
ya, aku tahu aku jauh. sungguh tidak mungkin bagi kita untuk bertemu secara intensif. tapi tidak adakah suatu cara, keinginan, bahkan suatu effort untuk tetap menjalin komunikasi agar hubungan ini dapat terjaga dengan baik.
sungguhkah kalian masih peduli padaku? sungguhkah ini yang dinamakan persahabatan?
sudah lama aku menanti hari ini. dimana aku dapat mengungkapkan apa yang ada di pikiranku beberapa bulan terakhir ini. tetapi aku tak punya keberanian untuk mengutarakannya. aku rindu kalian. aku rindu canda tawa kita bersama dulu. aku rindu bagaimana kita bersikap konyol dan tidak tahu malu saat bersama.
don't you miss it?
orang bilang kita sahabat. orang kira kita sangat dekat.
ya memang. tapi mungkin itu dulu. sekarang? aku tidak tahu.
kita memang terpisahkan oleh jarak. kesibukan dan aktivitas tiap kita memang berbeda. tapi tak adakah sedikit waktu tersisa untuk diluangkan bersama "sahabat"?
hanya untuk berbagi cerita singkat yang mungkin konyol dan tidak penting. hanya untuk berbagi cerita bodoh yang mungkin bagi orang itu tidak lucu. hanya untuk berbagi cerita dan kejadian yang terjadi saat kita sedang tidak bersama. tidak adakah waktu singkat itu?
aku ingin tahu, seberapa sibuk tiap orang dari kita. aku ingin tahu seberapa penting arti sahabat untuk masing-masing kita. aku ingin tahu betapa penting makna diriku bagi kalian.
ya, aku tahu aku jauh. sungguh tidak mungkin bagi kita untuk bertemu secara intensif. tapi tidak adakah suatu cara, keinginan, bahkan suatu effort untuk tetap menjalin komunikasi agar hubungan ini dapat terjaga dengan baik.
sungguhkah kalian masih peduli padaku? sungguhkah ini yang dinamakan persahabatan?
sudah lama aku menanti hari ini. dimana aku dapat mengungkapkan apa yang ada di pikiranku beberapa bulan terakhir ini. tetapi aku tak punya keberanian untuk mengutarakannya. aku rindu kalian. aku rindu canda tawa kita bersama dulu. aku rindu bagaimana kita bersikap konyol dan tidak tahu malu saat bersama.
don't you miss it?
Monday, 19 May 2014
Letter to God
Dear God,
I might be the person who is full of sins. I may not be a great daughter for my parents, good siblings for my brother and sister, or understanding people for my friends. But one thing I really want You to make it comes true. You know me completely in every details. You know me and my every moves. You know me and what is in my thoughts. My every steps, my every moves. You always in my side.
One thing I am asking for. Please don't separate me from my best friend. I love him more than I can describe. He is the one who understand me more than anyone else. He is the one who knows how to cheer me up when I am down. He is the one who know how to treat me more than anyone else can do. He is like my elder brother. I am afraid of losing again and again. You know God, I had travelled cities to cities. Leaving memories in each place. Leaving my bestfriend in each cities. Leaving the laughters and tears over there. Why couldn't I leave laughthers without tears in there? Why couldn't I leave memories that everybody could always remember them and after they thought about those memories, those memories would remind them of me?
My love to my best friend isn't big. It's just a million pieces of love that impact me soooo much. I just can't imagine how my life could be without the presence of my best friend. I'd rather being opnamed in the hospital than live healthily without my best friend. I had ever lost some of my best friend, and I don't wanna lose them again for the several times. If I could stop the time, I'd do it. I wish I could. But the fact is I couldn't. I don't have the ability to stop it.
I still remember how we met, how you make me smile, the way you laugh at me because of my silliness, the day when we met for the last time. Every efforts we made to meet again before those separations really come amongs us.
Once again I beg, I really beg. Don't separate us. He really is meaningful to me.
Thankyou God. That is all my prayer for my friendships. I hope You can fulfil it, for me. :')
"We may not be together. But one thing that I am sure of, we will be best friend forever." - Surprise - Drifting Hearts.
Saturday, 26 April 2014
Karya Ilmiah
Hey guys! Ceritanya gue mau berbuat baik nih. Di sekolah ada tugas pembuatan karya ilmiah, dan Thank God, I've done it well. Specially thanks juga buat my soulmate, Sheila Clarissa, yang setia nemenin gue dalam pembuatan karya ilmiah ini, yang bantu dengan sekuat tenaga jiwa dan raganya #duh. She's great and really patient to face kind of people as me! And because of her helps, we can be the first people who finished the deadlines! So great! Untuk membantu teman-teman lain, makanya gue share link ini.
Butuh inspirasi dalam pembuatan karya ilmiah? Check this links out! Ada dua part nih :b
http://www.slideshare.net/ViviLim11/1-33967779
http://www.slideshare.net/ViviLim11/2-33967784
Butuh inspirasi dalam pembuatan karya ilmiah? Check this links out! Ada dua part nih :b
http://www.slideshare.net/ViviLim11/1-33967779
http://www.slideshare.net/ViviLim11/2-33967784
Monday, 21 April 2014
Good in Goodbye #ShortStory #LAFLAF #Part2
“Woi, gimana kabar lu?”, tanya Jason saat
bertelepon dengan Vira.
“Baik, lu sendiri gimana Jas?"
“Everything is alright, until someone come
into my life.”
“Ah banyak gaya lu Vi, pake bahasa inggris
segala.”, ledek Jason.
“Iya dong, kan ceritanya gue ngomong sama bule
nyasar gitu~ hahaha”
“Iya deh iya, by the way anyway busway, lu
kenapa cewek?”
“Tidak apa-apa kawan. Trust me bro, it works!”
“Jahat nih ya, mentang-mentang kita sudah lama
terpisahkan. Huhuhu”
Beberapa jam mereka bertelepon, saling berbagi
cerita satu dengan yang lain. Mereka terpisahkan jarak berkilo-kilo meter.
Bahkan zona waktu antara mereka berdua pun berbeda. Bagaimana mereka dapat
bersama? Jalinan hubungan antara mereka, yang sudah lama mereka bangun. Ya,
tetapi itulah kenyataan yang harus mereka terima. Jarak antara Indonesia dan
Australia tidaklah sedekat Jakarta-Bogor atau Surabaya-Sidoarjo yang dapat
ditempuh dengan jalur darat yang singkat. Tetapi mereka tetap berusaha untuk
mempertahankan hubungan mereka. Memang sulit dan tak mudah. Awalnya memang ada
rasa kehilangan. Rasa rindu yang saling menghantui satu dengan yang lainnya.
“Eh, gue pergi ke college dulu ya. Bye
cewekk~”
“Yah jahat lu, ninggalin gue lagi. Gue lagi
bosen nih”
“Heh, bosen mulu kerjaan lu, mandi makan terus
belajar atau kerjain tugas gih, jangan sampai kecapean atau keburu tugas ya.”
“Iya bapak-bapak bawel yang sok dewasa~ nurut
aja deh gue.”
“Baguslah. Dasar bocah! Hahaha”
Akhirnya pun mereka menutup teleponnya dan
kemudian melakukan aktivitasnya masing-masing. Dengan kesibukan mereka sendiri,
mereka pun seakan-akan lupa dengan kerinduan yang mereka alami. Sampai suatu
ketika Vira ingat bahwa beberapa hari lagi merupakan ulang tahun Jason.
“OMG! Bentar lagi si
manusia rese ulang tahun! Duh gimana ya? Gue bingung mau kasih kado apa, malah
udah ga bisa dikerjain lagi gara-gara udah terpisah jarak gini. Yaampun! I have
no idea!”, kata Vira sambil menepuk jidatnya.
Beberapa saat Vira
diam dan termenung, duduk memikirkan kado apa yang harus ia berikan kepada
sahabatnya yang sudah pindah jauh tersebut. Banyak sekali hal yang disukai oleh Jason, baik mengenai kepemimpinan, filosofi dan sejarah yunani, dance, dan music.
Jason. Sahabat yang
paling mengerti dirinya. Orang yang selalu membuatnya tersenyum saat ia dilanda
kesedihan. Apalah daya dia sudah jauh
disana. Namun ia sangat bersyukur, karena pria yang meskipun jauh jaraknya dengannya,
namun pria itu jugalah yang paling dekat dan akrab dengannya. Pria itu juga
yang paling mengerti dirinya. Pria itu juga yang selalu mendukung impian,
cita-cita, dan keinginannya. Sinergi antara keduanya sangat baik.
Pernah sesekali ia
membayangkan hidupnya tanpa Jason. Sungguh hampa. Bahkan sangat tak
terbayangkan lagi. Hancur. Ya, mungkin itu merupakan kata yang paling tepat
untuk menjelaskan hidup Vira tanpa Jason. Entah apa yang ada di benak Jasonmengenai Vira, Vira tak peduli. Yang terpenting baginya, Jason adalah salah
satu harta yang sangat berharga di dunia ini yang bisa ia miliki.
Diambilnya sepucuk
kertas berwarna merah muda, kemudian ditulislah surat untuk Jason. Mulai dari
ucapan-ucapan ulang tahun, harapan-harapan untuk tahun-tahun ke depannya, dan
cerita-cerita masa silam tentang mereka berdua. Rasanya surat itu tidak dapat
menjelaskan banyak hal mengenai mereka. Rasanya ingin sekali Vira bertemu
dengan Jason, kemudian mereka bercanda, tertawa, dan saling mengusili satu
dengan yang lain. Maka ditulislah pada bagian akhir surat,
“Lu masih gamau balik
kesini Jas? Masih betah disana? Enak banget ya disana? You should know
something, I miss that time when you used to mock me, when you tried to trick
me, and every silly, idiot, little things we had done together.”
Tanpa disadari, air
mata menetes dari mata kecil Vira. Vira benar-benar sangat merindukan Jason.
Diputuskanlah bahwa Vira akan mengirimkan surat itu beserta buku-buku dan novel
favorite Jason. Ia berharap agar Jason menyukai kado pemberian Vira.
Hari demi hari dilewati
Vira sambil menunggu kabar sampainya kado itu di tangan Jason. Namun Jason tak
kunjung juga mengabarinya. Bahkan pesan yang coba dikirim oleh Vira tidak
mendapatkan respon. Entah apa yang sedang terjadi, pikirnya. Ada kekhawatiran
yang cukup mendalam di lubuk hari Vira. Tapi
ia berusaha menutupinya dan terus tersenyum.
“Aku harus bisa sabar
menunggu kabar itu, kalau misalnya tidak ada kabarnya pun, aku harus
mengikhlaskannya saja.”
Tepat di hari ulang
tahun Jason, Vira mengirim pesan ucapan selamat ulang tahun lagi kepada Jason.
“Happy birthday bule
nyasar. God bless ya! Have a big blast.”
Kemudian ia kirim. Kemudian
tak disangka, Jason meneleponnya kembali.
“Halo?”
“Ya, hallo? Kenapa Jas?
By the way happy birthday ya jelek! Lu udah
terima chat dari gue?”
“Udah cewek. Makasih ya!
By the way, gue mau minta maaf karena ngisengin lu beberapa hari ini,
sebenarnya paket lu udah nyampe dari beberapa hari yang lalu, tapi gue pengen
isengin lu nih. Udah lama ga iseng. Hehe. Thank you so much ya!”
“UUHHH iseng banget
sih lu! Tapi yaudahlahyah, gimana? Lu suka kadonya?”
“Suka banget. Gue beneran
speechless gatau mau ngomong apalagi ke lu. Gue bersyukur banget bisa punya
sahabat bawel dan jelek kayak lu Vi. Lu beneran mengerti gue banget, dan lu selalu
setia support gue, apapun keadaan gue. Thank you banget Vi!! Sumpah ini beneran
udah speechless! Love you so much jelek!”
“Love you too bawel! Baguslah
kalau lu suka, setidaknya pilihan gue ga salah. Have a year of joy ya cowok
bawel! Huahaha!!”
“Iya, cewek ngeselin! Wkakaka
sahabat macem apa lu ngatain gue terus? Gue lagi ulang tahun harusnya
dipuji-puji nih.”
“Pengen banget dipuji
bro? Ga cocok dipuji lu! Hahaha”
“Tuh kan tega! Oh iya,
untuk membalas isi surat lu itu, gue bakalan pulang ke Indonesia di hari ulang
tahun lu! Puas ga? Mumpung disini lagi summer vacation nih. Jadi gue bisa
manfaatin waktu gue buat ketemu cewek bawel dan ngeselin kayak lu dulu! Sekalian
refreshing. “
“SUMPAH LUUU?!! WAA
SENENG BANGET GUEE! LAFLAF JAS! AKHIRNYA DIRIMU KEMBALI!”
“Cie kesenengan. Gausah
lebay gitu ah Vi, kayak mau ketemu artis aja. Eh,gue kan artis ye kan!”
“Duh males deh gue
jadinya. Gue tutup aja ya telfonnya? Hahaha”
“Tutup aja sana,
palingan nanti juga lu yang kangen.”
Vira sungguh lega hari
itu. Rasanya emas yang hilang itu akhirnya kembali lagi ke dalam genggamannya. Tak
pernah sekalipun ia membayangkan bahwa ulang tahunnya nanti akan diwarnai
dengan warna baru yang sudah lama hilang dalam hidupnya. Seperti rangkaian
pensil warna yang tidak lengkap. Namun kini, pensil warna yang hilang itu
akhirnya ditemukan.
“Every hello has its
goodbye. But remember, there is something good that you can learn from the word
‘goodbye’. Because in ‘goodbye’ itself,
it is written ‘good’. So, start believing and dream, but don’t forget to make
it comes true.” - @ViDarmalim.
Monday, 14 April 2014
LAFLAF! #ShortStory #2ndEdition
Tiga belas tahun lamanya mereka saling mengenal satu dengan
yang lainnya. Tujuh tahun lamanya mereka terpisah satu sama lain. Enam tahun
lamanya mereka selalu bersama. Empat tahun mereka hilang komunikasi satu dengan
yang lainnya. Lost contact, mungkin itu nama elite-nya.
“Apakah dia masih mengingatku? Apakah dia masih ingat siapa
aku? Apakah dia akan tetap seperti Tommy yang ku kenal dulu?”, pikir Vira dalam
hatinya.
Hari-hari yang dia lewati selama liburan menjadi suram dan
tidak jelas. Liburan yang seharusnya menjadi hari yang membahagiakan bagi
seorang pelajar SMA seperti dirinya berubah seketika. Entah apa yang ada di
dalam benaknya. Entah apa yang membuatnya flashback pada masa lalunya itu.
“Aduh apaan sih ini! Otak gue kenapa deh! Errghhh! Move on,
Vi! Move on! Lu udah ga di Medan lagi! Inget itu!”, gerutu Vira pada dirinya
sendiri.
“Aaahh yaampun gue kenapa sih! Harusnya kan gue belajar
fisika! Udah tau fisika susah! Malah beberapa hari lagi ulangan lagi. belum
lagi ulangan-ulangan lainnya. Yaampun jadwal padet tapi otak gue malah kayak
begini.”, gumam Vira sambil melihat kearah cermin di kamarnya itu.
Tampaknya itu bukan menjadi hal yang aneh lagi bagi Vira.
Kebiasaan berpindah kota karena pekerjaan ayahnya itu membuat dia harus
terpisah dengan banyak orang, terutama sahabat-sahabat yang ia sayangi itu.
Gadis berambut ikal berwarna hitam, berdiri tegak di depan kaca, melamun dengan
tatapan kosong. Apa yang ada di dalam pikirannya? Tentu saja bayangan akan
sahabat-sahabatnya yang pernah ada dalam hidupnya. Sahabat yang selalu menemani
dalam suka maupun duka. Sahabat yang menemani setiap moment gila, konyol, dan
idiot yang dilalui bersama.
Masih teringat bayang-bayang itu. Wajah-wajah penuh
senyuman. Wajah-wajah dengan air mata yang harus diusap dengan tangan halus
seorang sahabat. Wajah-wajah kelelahan karena aktivitas yang dilalui bersama.
Dan wajah itu takkan pernah terhapuskan dalam hidupnya.
“Gue kangen lu, Tom. Gue kangen waktu kita bareng. Gue
kangen waktu gue nangis karena keisengan yang lu bikin. Gue kangen waktu gua
sedih dan galau dan lu yang ada buat gue. Gue kangen waktu kita hang out bareng
temen-temen lain dan we really enjoy it.”, Vira menangis.
“Kenapa kita harus pisah sih? Kenapa kita bisa hilang
contact gitu aja? Kenapa lu ga pernah nyariin gue sama sekali? Apa lu udah lupa
sama gue? Segampang itukah lu lupain semua kenangan kita bersama?”
Semakin Vira menggerutu semakin deras juga tangisan yang
membasahi pipinya itu. Belum lagi kenangan-kenangan lain bersama teman-teman
lainnya itu. Vira, gadis manis yang terkenal dengan ke-tomboy-annya itu memang
lebih banyak bergaul dengan banyak pria. Namun ia juga masih memiliki
teman-teman wanita lainnya. Faula, Sherine, Catherine, Felizha, Melyana, Putri, Monica, Tania,
Petricella, Stella, dan masih banyak nama yang tak tersebutkan. Terlalu banyak
orang yang berarti bagi dirinya. Tetapi, bayangan Tommy dan segala keisengan
yang dia lakukan tak luput dari ingatan Vira.
“Tau ah, capek gue. Kebanyakan berharap ini mah namanya.
Takut di-PHP-in diri sendiri ah. Mau sampe kapan hidup dalam harapan dan
bayangan masa lalu terus? Hufftt”
Diambilnya tas yang berisi ponsel dan dompetnya itu,
dinyalakannya sepeda motor yang terparkir tepat di depan rumahnya, dan Vira pun
berangkat. Beberapa saat ia berkeliling mengelilingi perumahan tempat ia
tinggali itu, dan berhentilah ia di tepi danau. Bengong, melamun, sambil
mengingat kenangan masa lampaunya. Terdengar suara anak-anak kecil berlarian
bersama hewan peliharaannya. Balita-balita belajar berjalan dan naik sepeda.
Remaja-remaja sepantarannya bermain basket. Namun semua itu tak memalingkan
sedikitpun fokusnya terhadap masa lampaunya.
Masa-masa yang masih membebani pikirannya saat itu.
“Percuma juga gue nge-stalkiing temen-temen gue dari zaman
bahala sampe sekarang, masih aja ga ketemu account lu, Tom. Lu itu gaptek atau
apa sih?! Heran gue! Twitter ga punya, instragram ga punya, facebook jarang
dibuka, line lu gajelas id-nya apa. Ngeselin banget sih lu jadi cowok! Errghh!
Heran gue kenapa gue bisa punya temen ngeselin kayak lu!”, lagi-lagi Vira
mengomel.
“Ngeselin tapi lu sayang juga kan sama dia?”
Suara itu sentak mengagetkan Vira. Lamunan seketika terhenti.
“Jas! Gila kurang ajar lu ngagetin gue! Tau darimana lu gue
disini?”, Vira bangkit dari batu besar yang ia duduki, kemudian mengejar Jason yang mengagetkannya saat itu.
“Ehh udah ah, Vi, gue capek lari-larian. Kenapa lu bengong
disini sendirian?”, Tanya Jason sambil memegang tangan Vira agar tidak
memukulnya.
“Gapapa kok Jas. Hehe. Sini lu cerita kenapa lu bisa tau gue
disini!”
“Taulah! Jason gituloh! Hahahaa”
“Ah licik lu ketawa-ketawa kayak begitu! Seriusan!”
“Yaelah kita kayak baru kenal sehari aja Vi! Kalau lu lagi
gaada di rumah dan gaada yang tau lu kemana dan lu tiba-tiba ga bales chat gue
di kala penting gini ya kemana lagi selain ke tempat ini? dan kenapa lagi kalau
bukan sedih?”
“Waaa you know me so well Jas! Hahahaha”
“Lebay ah lu Vi!”
“Ah ga seneng aja lu Jas!”
“Eh btw anyway busway nih ya, lu kenapa sedih? Jahat lu, ga
story-story ke gue! Wooo”, ledek Jason sambil menoel kepala Vira.
“Sorry dory strawberry blueberry don’t worry coy~ gue ga
kenapa-kenapa kok, Cuma kangen temen lama aja.”
“Loh kan udah ada gue, cowok paling ganteng, keren, unyu,
cool sejagad raya alam semesta ini. Ngapain kangen lagi?”, hibur Jason .
“Aduh pede banget sih lu Jas! Gue jitak nih lu! Sok keren
banget sih jadi cowok! Hii geli deh gue.”, Vira memukul pundak Jason .
“Iya deh iyaa~ hahaha seriusan nih lu kenapa? Kangen temen
lama yang di Medan atau yang dimana lagi? Cupcupcupp~”
“Heh! Lu kira gue anak kecil apa pake cupcupcup segala
hahaha~ iya gue kangen temen-temen gue yang di Medan. Kangen banget. Ga boong,
ciyus, cumpah, enelan, miapapun deh.”
“Alay ah lu jelek!”, Jason menepuk jidat Vira.
“Heh tepok tepok jidat! Nanti gue jenong gimana? Sini lu!
Gue tepok balik!”
Jason , pria yang selama ini selalu menemani Vira saat Vira
sedih, saat Tommy masih dalam bayangan Vira. Meskipun Jason pria yang iseng,
tapi Jason-lah yang paling mengenal Vira, Jason yang paling tahu bagaimana membuat
senyuman Vira kembali lagi seperti sedia kala. Tak jarang gossip antara mereka
berdua dilontarkan. Tetapi mereka mengabaikannya. Bagi mereka, yang penting mereka
bahagia dan yang penting mereka nyaman dengan hubungan mereka.
“Nah gitu dong Vi, senyum lagi, kan lebih enak dilihatnya!”,
ledek Jason .
“Makasihh>< imut kan gue? Makin cantik, unyu-unyu,
pasti lu langsung nge-fans sama gue! Ya ga? Ngaku aje luuuu!”
“Helloo?! Gue?! Nge-fans?! Sama lu?! Oh My God! Oh My No! Oh
My Wow! Ga mungkin keles!”
“Ga seneng aja lu ah! Jelek dasar!”
“Tuh kan manyun lagi, dasar jelek lu Vii! Gue jejelin lumpur
nih ke mulut lu biar ga bisa manyun lagi!”
“Tuh kan jahat lagi sama gue! Cowok macem apa luu?!
Tega-teganya menyakiti wanita yang imut nan cantik ini.”
“Tau ga Vi, gue pengen muntah denger kalimat lu barusan!
WAKAKAKAKA”, Jason meledek Vira, kemudian lari secepat yang ia bisa.
“HEH jangan lari lu! Sini balik! Mentang-mentang gue ga bisa
lari terus lu striker futsal bukan berarti lu bisa kerjain gue dengan cara
lari-larian gini yaa!!”, teriak Vira kesal.
“Tau ah gue capek! Sana lari sejauh mungkin! Gausa balik
lagiii!!”
Vira yang kala itu sedang lelah kemudian memilih untuk duduk
diatas batu besar dibawah pohon rindang di tepi danau itu dan duduk menunggu
sendiri.
“Ah elah kemana sih itu anak. Keterusan lari atau apa deh.
Ampun dah gue. Capek gue nungguinnya.”
Beberapa saat Vira menunggu datangnya Jason , tetapi ia tak
kunjung juga kembali. Kemanakah dia pergi? Danau ini terlalu luas untuk
dikelilingi seorang gadis sendirian. Vira masih memilih untuk menunggu.
Tiba-tiba ada yang menutup mata Vira dari belakang, dan karena kaget, Vira pun
berteriak.
“AAAAA!!! SIAPA NIH?!”
“Ah tomboy tapi cempreng teriakan lu. Gimana sih.
Cewek-cewek.. ckckck”
“Aduh ga seneng aja manusia satu ini. Namanya juga cewek
unyu~”, ucap Vira kepedean sambil memukul badan Jason sepuasnya.
“Aduh aduh! Sakit jeleeekkk”
“Biarin aja! Emangnya enak kerjain gue! Sini lu, belum puas
gue mukulin luuu”
“Bwee! Uda ga bisa mukul gue lagi kan lu! Tangan lu uda gue
tahan! Ayo sini temenin gue belajar aja!
Ajarin gue sini!”
“Heh lepasin tangan gue! Ah sakiitt”
“Bilang iya dulu baru gua lepasin. Katanya tomboy, tapi kok
gini aja kesakitan.”
“Iyaiyaa! Uhhh”
“Yaudah ayok, ke food court deket rumah lu aja, biar cepet.
Gue udah bawa bukunya nih.”
“Iya bawel!”
Kemudian mereka pun belajar sambil makan bersama. Terkadang
pun diselingi dengan canda tawa dan sedikit guyonan agar tidak membosankan.
Setelah beberapa jam mereka belajar bersama, akhirnya mereka selesai dan sangat
lega.
“Makasih ya cewek tomboy sejagad raya yang ga bisa dandan
sedikit pun, sudah berbaik hati mau ngajarin cowok sekeren gue ini.”, ujar Jason .
“I don’t know what I am going to say, but this is so
fitnah!”, Vira tidak terima.
“Inggris macem apaan itu Vi. Elite dikit kenapa deh inggris
lu.”
“Tuh kan bawel banget. Kenapa sih jadi cowok bawel banget.
Euw~”
“Eh eh eh!!”
“Apa apa?”
“Gapapa.”, Jason tersenyum.
“IIHH kenapa sihh?!”
“Itu rambut lu berantakan Vira-ku sayang yang unyu-nya
sejagad raya tiada tara, sini gua benerin rambut lu dulu.”
Vira terdiam. Ia kehabisan kata-kata. Dibiarkannya Jason membenahi rambutnya yang menurutnya berantakan itu.
“Nah, kalau udah dibenerin kan jadi makin unyu. Ya ga?”
“Apaan sih lu Jas? Lebay deh. Mau rapi mau berantakan gua
tetap unyu kok”
“Aduh males deh ya muji cewek kayak lu, baru dipuji dikit
aja uda keterusan. Eh ayo pulang.”
Mereka pun berberes-beres kemudian pulang ke rumah
masing-masing. Sesampainya di rumah, Vira yang kelelahan pun akhirnya tertidur
begitu saja. Keesokkan paginya, ia pun segera bersiap untuk ke sekolah kembali
karena liburannya telah usai.
“Eh kebo! Kemana aja lu kemaren?”
“Umm..Hehehe ketiduran”
“Gausah sok nyengir deh, udah gendut makin gendut lu, tidur
mulu!”
“Manusia butuh istirahat yang cukup broh~”
“Iya deh iya, ngalah aja gue sama lu. Ayo masuk kelas
bareng”
“Lu kesambet malaikat surgawi ya Jas? Kok tumben dari
beberapa hari yang lalu lu baik sama gue?”
“Loh? Emang gue pernah jahat sama lu? Ga pernah kali~ lu aja
yang negative thinking terus sama gue.”
“Ah yasudahlah, yuk capcus.”, Vira berusaha melupakan.
Vira memang terkenal cuek dan tidak peduli. Tetapi sekali ia
peduli dengan teman dan sahabatnya, ia akan terus memperdulikan mereka. Sudah
tak diherankan lagi jika Vira lebih banyak bergaul dengan Jason dan
teman-temannya. Vira juga dikenal dengan ke-tomboy-annya. Ia memang tak banyak
menunjukkan. Tetapi ia berbeda dengan gadis-gadis lain sepantarannya. Ia bahkan
tak tahu bagaimana cara merias wajah, cara berpakaian feminism dan girly. Baginya,
yang terpenting adalah harga dirinya tidak dijatuhkan oleh orang lain saja
sudah harus disyukuri.
Beberapa hari ini Jason tampak berbeda. Ia menjadi pribadi
seseorang yang sangat mengalah dan
meluangkan banyak waktunya untuk menghibur Vira. Tidak seperti biasanya.
Padahal Jason terkenal dengan hobi bermain game, basket, dan futsalnya. Bahkan
jarang sekali mereka bisa bersama setelah pulang sekolah. Pada awalnya Vira
tidak menyadarinya. Namun lama kelamaan Vira sadar akan perubahan yang terjadi
pada sahabatnya itu.
“Lu kenapa sih Jas? Kok aneh?”, Tanya Vira curiga.
“Hah? Aneh apanya? Lebay ah lu Vi”, Jason menjawab sambil
kebingungan.
“Beneran Jas, jujur. Lu ada masalah? Kok ga cerita ke gue?”,
Vira membujuk lagi.
“Umm..cerita ga yaa”, ledek Jason .
“Tuh kan mulai lagi jahatnya, pelit cerita ah lu. Tega lu
tegaaa”, Vira memanyunkan bibirnya.
“Eh jelek ah, jangan gitu. Hahaha”
“Makanya cerita!”
“Jadi gini, gue suka sama satu cewek. Baik banget sih
anaknya menurut gue. Cantik lagi. Terus dia anaknya smart gitu. Dan ga banyak
macem. Kalau lagi ngambek sama gue, dia imut banget. Makanya gue suka ledekin
sama isengin dia. Pokoknya gue nyaman banget bisa deket sama dia. Makanya
akhir-akhir ini gue spend waktu gue buat dia terus. Karena gue sayang sama dia.
Dan gue gamau kehilangan dia. Gue juga gamau liat dia sedih.”
“Gile! Itu gue banget! Cantik imut unyu smart lagi!
Wakakakak kidding kidding! By the way anyway busway, namanya siapa bro?”, Vira
tertawa sambil melet.
“Vira. Ya, itu lu.”
“Ga lucu men! Becandaan lu jelek tingkat tinggi. Level
rendahan lu! Lagi serius gini malah becanda.”, Vira marah.
“Gue serius Vi, ngapain gue boong? Gue sayang sama lu. Lu
cewek unik bagi gue. Sahabat yang ngertiin gue banget. Lu tau kenapa gue berani
ngomong gini ke lu?”
“Kenapa?”, Tanya Vira sinis.
“Karena hari ini juga, gue mau izin sama lu. Gue mau pergi
ke Australia untuk lanjutin sekolah gue. Gue mau pergi bawa cinta gue ini. gue
janji gue bakalan balik lagi kesini. Dan gue berharap lu nungguin gue. Gue
janji kita gaakan lost contact. Gue janji gue akan tetep ada buat lu. Gue janji
gue gaakan kayak sahabat lu yang sekarang lost contact sama lu.”
“Lu jahat Jas. Kenapa lu ninggalin gue?”, Vira menangis.
“Vii please jangan nangis. Gue sayang sama lu. Please
ngertiin keadaan gue. Gue juga gamau pisah sama lu. Tapi mau gimana lagi. ini
udah takdir. Kayak dulu lu pindah kesini. Itujuga bukan karena kehendak lu kan?
Inget Vi, zaman udah canggih. Kita punya banyak social media yang bisa
menghubungkan kita berdua, sejauh apapun jaraknya. Kalau lu ada apa-apa tell me
ya? Promise me.”
“Iyaa.. hiks hiks”, Vira masih menangis tersedu-sedu tidak
dapat menerima kenyataan akan perpisahan ini.
“Wanna have a hug?”, Jason membuka lebar lengannya.
Vira mengangguk.
“Jangan pernah lupain gue. Jangan pernah lupain kenangan
kita. Walaupun lu ngeselin, nyebelin, jelek, bawel, iseng, tapi you know how to
treat me well. Even sometimes we fight, but you know how to make it back to
usual. Lu tau cara bikin gue nyaman. Lu tahu cara bikin gue lupa sama masalah
gue dan segala kesedihan gue.”, Vira memeluk Jason kencang.
“Iya Vi. I promise. I owe you.”
Jason mengusap air mata yang bercucuran di pipi chubby Vira.
Kemudian bertindak konyol.
“LAFLAF! Ayo senyum”, Jason mengucapkan kata yang paling
sering diucapkan Vira saat sedang bertingkah konyol, kemudian memeragakan gaya
tangan membentuk hati diatas kepalanya. Seketika tangisan Vira berubah menjadi
senyuman yang lebar.
“Nah begitu dong, makin sayang dah gue sama lu Vii”
“Gue kan ngangenin dan imut imut lucu unyu unyu, pasti
banyak yang sayang. Ya kan ya kan?”
“Iyadeh iya, biar seneng~ eh tapi kalau gitu saingan gue
buat dapetin lu nanti makin banyak dong?”, ledek Jason .
“Ih apaan sih lu Jas? Dasar jelek nyebelin! Ayo ah pulang
aja, I miss my foods. Laper nih.”
“Dasar gendut, makan mulu lu.”
“Gendut tapi lu suka juga kan? Gausah ngeledek kalau gitu.
Bweee “
Hari-hari terakhir keberadaan Jason di Indonesia pun mereka
lewati bersama. Canda tawa dan berbagai lelucon dilontarkan. Sampai akhirnya Jason harus pergi meninggalkannya.
“Jas, ini ada kenang-kenangan buat lu. Semoga lu tetep inget
gue, dan inget janji kita.”
“Pasti Vi. Lu juga harus inget janji kita. Dan jangan lupa
janji lu untuk tetap jadi cewek yang strong. Gue yakin lu pasti bisa kok. Lu
cewek yang paling tangguh dan hard working yang pernah gue temuin. Wait for me
ya! Gue pergi dulu. See ya!”
“Bye Jas! Inget ngabarin ya!”, mata Vira berkaca-kaca.
“Iya jelek! Laflaf! Hahaha”
“Laflaf jugaa >.<”
Dan sejak saat itu, Vira dan Jason hanya dapat saling
berhubungan melalui social media. Sesekali mereka menelfon untuk mendengar
suara masing-masing dan bercerita akan banyak hal. Mereka saling menunggu. Menunggu
untuk bisa bersama kembali. Menunggu untuk melepas kerinduan. Menunggu itu
sulit. Menunggu itu membosankan. Menunggu itu sabar. Menunggu itu penantian. Tetapi
dari menunggu itulah kita belajar banyak hal.
“Terkadang tidak semua hal akan indah di waktu yang kita
inginkan. Tetapi percayalah, bahwa kebahagiaan memiliki caranya sendiri untuk
menunjukkan dirinya dengan cara yang indah, bahkan lebih indah dibanding yang
kita bayangkan.” - @ViDarmalim
Thursday, 10 April 2014
Anger Explosion~
In the beginning
Everything seemed alright
Everything fulled of smiles
Everything ran easily
But, by time goes
Everything has changed
People come and go
Tears drop and dry
Smile change into tears
Laughter into silences
I wonder why
I wonder how
They could think that kind of silly things
Feeling bad when I am happy
Even feel worst when I am laughing
Separation..
Is this all they want?
No matter how hard I try
How lot I cry
How much I beg
Will they realized?
That my heart is crying
My mind is moaning
and my anger is gonna explode
Will they care?
Will they feel guilty?
I am tired with this drama
Without a clear beginning and no endings
Don't you feel the same one?
What if it happened to you?
Would you be mad?
Would you get angry?
Would your anger explode?
Would you be strong enough to not cry?
How strong you could be?
If you were me?
I wanna see!
Prove you are brave!
Prove that you are a good friend!
Prove that you are strong!
Prove that you won't cry!
If you face the same thing!
In the end,
You are just pretending that nothing is happening
You are just sitting there, backstabbing me
Talking about me
What else you can do?
Fucking your life off?
HAHA! OH GREAT!
Everything seemed alright
Everything fulled of smiles
Everything ran easily
But, by time goes
Everything has changed
People come and go
Tears drop and dry
Smile change into tears
Laughter into silences
I wonder why
I wonder how
They could think that kind of silly things
Feeling bad when I am happy
Even feel worst when I am laughing
Separation..
Is this all they want?
No matter how hard I try
How lot I cry
How much I beg
Will they realized?
That my heart is crying
My mind is moaning
and my anger is gonna explode
Will they care?
Will they feel guilty?
I am tired with this drama
Without a clear beginning and no endings
Don't you feel the same one?
What if it happened to you?
Would you be mad?
Would you get angry?
Would your anger explode?
Would you be strong enough to not cry?
How strong you could be?
If you were me?
I wanna see!
Prove you are brave!
Prove that you are a good friend!
Prove that you are strong!
Prove that you won't cry!
If you face the same thing!
In the end,
You are just pretending that nothing is happening
You are just sitting there, backstabbing me
Talking about me
What else you can do?
Fucking your life off?
HAHA! OH GREAT!
Sunday, 6 April 2014
I am so sorry! #ShortStory #Part3
"Kamu kok gitu sih?", tanya Dennis kecewa.
"Apanya yang gitu? Kamu jangan berlebihan begitu kenapa sih?", bentak Fiona.
Siang hari itu semakin panas dengan adanya pertengkaran antara mereka. Enam bulan lagi mereka akan menikah, tetapi mereka malah bertengkar hebat. Padahal seharusnya mereka mendiskusikan banyak hal untuk pernikahan mereka. Fiona menangis. Dennis, yang seharusnya ada di samping Fiona, menghapus air mata yang membasahi pipinya, mengubah tangisan menjadi senyuman, pergi begitu saja meninggalkan Fiona yang sedang sedih hari itu.
Fiona berpikir panjang, apa yang telah ia lakukan kepada kekasihnya itu. Kesalahan besar seperti apa yang telah ia perbuat. "Dia sungguh berbeda hari ini.", ucap Fiona dalam hati. Fiona mengusap air matanya sendiri, kemudian bangkit.
"Liz, aku mau ke rumahmu sekarang. Stand by ya!", telfon Fiona kepada Elizabeth.
***
Sesampainya Fiona di rumah Elizabeth, Fiona langsung memeluknya dan menangis tersedu-sedu. "Lu kenapa Fi? Lu kesini sendirian? Cowok lu kemana?", tanya Elizabeth penasaran. Fiona tak dapat berhenti menangis. Dibawalah Fiona ke kamar Elizabeth dan dia berusaha untuk memberhentikan tangisan itu.
"Ceritain ke gue Fi lu kenapa..Jangan diem gini terus dong.", bujuk Elizabeth.
"Ada masalah sama cowok lu, si Dennis itu?"
Fiona mengangguk.
"Dia kenapa? Dia nyakitin hati lu? Atau apa?"
"Enggak kok.. tadi gue ngisengin dia, terus dia langsung marah dan bentak gue. Terus dia ninggalin gue gitu aja waktu fitting baju pengantin."
"APAAA?!! KETERLALUAN BANGET ITU COWOK!", Elizabeth kesal.
"Bukan salah dia kok, Liz. Itu salah gue. Coba aja gue tau dia ga mau diisengin hari ini. Pasti gaakan terjadi hal seperti ini.", hibur Fiona.
"Jangan salahin diri lu sendiri Fi. Ini ga pure salah lu. Dia juga lebay ah baru diisengin gitu doang udah marah! Mau gua telfon si Jack terus nanya ada apa sama Dennis ga?", tanya Elizabeth.
"Boleh deh. Thank you ya Liz. Sorry repotin."
"Kita ini sahabat. Lu ga pernah repotin gue kok.", Elizabeth tersenyum manis.
***
Pembicaraan Jack dan Elizabeth di telfon tidak berbuah apapun. Jack pun tidak tahu apa yang terjadi dengan Dennis. Hari itu sungguh aneh. Fiona memutuskan untuk pulang dan menyiapkan makan malam dan mengantarkannya ke rumah tempat kos Dennis untuk makan malam bersama. Ia menyiapkan semuanya dengan sepenuh hati dan berharap Dennis akan memaafkannya.
Ting tong.. Ting tong..
Bel tempat kos Dennis pun berbunyi. Dennis keluar dan membukakan pintu untuk Fiona.
"Hai Fi", ujar Dennis dengan senyuman.
Fiona sungguh lega mendengar kalimat singkat itu.
"Ini, aku masak buat makan malam kamu. Aku minta maaf ya. Aku tahu aku salah.", Fiona memohon.
"Tidak apa-apa kok Fi.. Kamu gausah memikirkan hal itu lagi. Aku sudah memaafkan kamu kok.", muka Dennis berubah.
"Jangan bohong. Aku tahu kamu masih menyimpan perasaan yang tidak enak padaku kan? Maafkan perbuatanku tadi. Sungguh, aku memohon padamu.", ucap Fiona sedih.
"Kamu tidak perlu melakukan ini untukku. Sungguh, aku tidak apa. Kamu lebih baik pulang saja, ini sudah malam kan. Tidak baik untuk seorang gadis pulang malam.", nasihat Dennis.
"Kamu tidak perlu melakukan ini untukku. Sungguh, aku tidak apa. Kamu lebih baik pulang saja, ini sudah malam kan. Tidak baik untuk seorang gadis pulang malam.", nasihat Dennis.
"Ya, ya kamu betul sekali. Memang seharusnya aku pulang. Kamu benar."
Mata Fiona berkaca-kaca. Tak seharusnya dia melakukan hal itu untuk Dennis karena sia-sia. Fiona sungguh menyesal. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk menebus kesalahannya pada Dennis.
Sesampainya di rumah, Fiona langsung mengambil handphone-nya dan mengirim pesan pada Dennis.
"Kamu jangan marah lagi sama aku. Aku sayang kamu. Please? Good night. I love you. Jangan lupa besok fitting baju pengantin ya :)"
Pesan sudah terkirim. Tak ada balasan apapun. Fiona menunggu berjam-jam, masih tak ada balasan apapun. Malam itu sungguh merupakan malam yang sungguh panjang untuknya. Hari yang seharusnya menjadi hari yang indah dan bahagia, berubah menjadi hari yang buruk. Mungkin hari terburuk yang pernah ada dalam hidupnya. Hingga larut malam, akhirnya Fiona tertidur. Tertidur bersama segala pikiran yang mengganggunya.
Sentak, ia terbangun. Tak disangkanya, ia memimpikan Dennis. Dennis benar-benar tak bisa hilang dalam ingatannya, pikirannya. Bagaimana mungkin mereka bertengkar hanya karena masalah kecil?
***
"Dennis, maafkan aku. Aku mohon, angkat telfonku.", gumam Fiona dalam kamar.
Dennis mengangkat telfonnya. Sungguh bahagia rasanya. Akhirnya mereka akan fitting bajupengantin bersama dan mereka pasti tidak akan diam-diaman seperti hari sebelumnya lagi, pikir Fiona.
Namun semua berubah saat mereka bertemu. Dennis diam. Diam seribu bahasa. Tak banyak yang ia ucapkan. Apapun yang dikatakan oleh Fiona selalu diiyakan olehnya agar tidak memancing keributan seperti yang biasa mereka lakukan. Padahal biasanya mereka selalu berargumen agar dapat saling menertawakan satu dengan yang lainnya. Namun, kali ini tidak. Fiona pun terdiam. Fiona takut. Sungguh takut. Apakah mungkin pernikahan itu akan dibatalkan? Ya, mungkin saja, pikirnya.
Dengan tergesa-gesa Fiona meminta pulang ke rumah dengan alasan sakit perut. Ia tak kuat melihat ketegangan yang terjadi antara mereka berdua. Sungguh menyakitkan. Ya, sakit sekali.
Beberapa hari berlalu, mereka masih dalam ketegangan yang sama. Fiona berusaha mencairkan suasan tegang itu dibantu dengan Elizabeth, tapi tak berguna. Sampai akhirnya, Dennis menelfon Fiona dan mengajaknya untuk bertemu.
"Maafkan aku.", ujar Dennis.
"Untuk apa?", jawab Fiona agak kesal.
"Untuk segalanya. Terutama beberapa hari ini. Mood-ku sedang tidak baik. Aku ada masalah yang belum dapat ku ceritakan. Tapi aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kamu mau kan memaafkanku?"
Berat bagi Fiona untuk memaafkan Dennis. Setelah beberapa saat mereka mengobrol dan Dennis menceritakan segalanya, akhirnya mereka pun berbaikan dan kehidupan mereka berjalan seperti biasa.
Fiona pun sangat lega akhirnya mereka dapat berbaikan kembali, dan ketakutan akan kegagalan pernikahannya pun batal. Dennis pun bersyukur karena Fiona dapat mengerti keadaannya.
Dennis mengangkat telfonnya. Sungguh bahagia rasanya. Akhirnya mereka akan fitting bajupengantin bersama dan mereka pasti tidak akan diam-diaman seperti hari sebelumnya lagi, pikir Fiona.
Namun semua berubah saat mereka bertemu. Dennis diam. Diam seribu bahasa. Tak banyak yang ia ucapkan. Apapun yang dikatakan oleh Fiona selalu diiyakan olehnya agar tidak memancing keributan seperti yang biasa mereka lakukan. Padahal biasanya mereka selalu berargumen agar dapat saling menertawakan satu dengan yang lainnya. Namun, kali ini tidak. Fiona pun terdiam. Fiona takut. Sungguh takut. Apakah mungkin pernikahan itu akan dibatalkan? Ya, mungkin saja, pikirnya.
Dengan tergesa-gesa Fiona meminta pulang ke rumah dengan alasan sakit perut. Ia tak kuat melihat ketegangan yang terjadi antara mereka berdua. Sungguh menyakitkan. Ya, sakit sekali.
***
Beberapa hari berlalu, mereka masih dalam ketegangan yang sama. Fiona berusaha mencairkan suasan tegang itu dibantu dengan Elizabeth, tapi tak berguna. Sampai akhirnya, Dennis menelfon Fiona dan mengajaknya untuk bertemu.
"Maafkan aku.", ujar Dennis.
"Untuk apa?", jawab Fiona agak kesal.
"Untuk segalanya. Terutama beberapa hari ini. Mood-ku sedang tidak baik. Aku ada masalah yang belum dapat ku ceritakan. Tapi aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kamu mau kan memaafkanku?"
Berat bagi Fiona untuk memaafkan Dennis. Setelah beberapa saat mereka mengobrol dan Dennis menceritakan segalanya, akhirnya mereka pun berbaikan dan kehidupan mereka berjalan seperti biasa.
Fiona pun sangat lega akhirnya mereka dapat berbaikan kembali, dan ketakutan akan kegagalan pernikahannya pun batal. Dennis pun bersyukur karena Fiona dapat mengerti keadaannya.
"When the word sorry means nothing, and what you did are worthless, believe that time will give you the answer of your problems." - @ViDarmalim ><
You Don't Know
You don't know how expensive a thing
Until you got economical crisis
You don't know how far you are
Until distances separate you
You don't know how you've been high
Before you're feeling low
You don't know what you have got
Until it is gone
You don't know which you go
Until you find choices
You don't know you've been in light
Until you are in the dark side
And unfortunately,
You don't know either you love her or not
Until she went away from your life
Until her tears when she was with you
Changes into smiles
You don't know how worthy she is
Until she doesn't care about you anymore
You don't know how important she is
Until you let her go
You don't know how interesting talking with her
Until you both stop talking, stop arguing
and stop laughing at each other
You don't know how much she used to miss you
Until you miss her but she doesn't care anymore
You never realized it
You never understand
You never care
Because you are too busy with your own
When she had gone away
Everything was gone
In the end,
There's only memories left
In the end,
There's only regrets
Why don't you realized it from the beginning?
Why don't you understand it?
It is only kind of simple thing
Why is it so hard for you?
She'd loved you with her deepest heart
Help you with all her strength
Take care of you with all her loves
Wait for you all her patience
But now it is too late
She'd gone
She'd left
And after all?
Will you still love her?
Until you got economical crisis
You don't know how far you are
Until distances separate you
You don't know how you've been high
Before you're feeling low
You don't know what you have got
Until it is gone
You don't know which you go
Until you find choices
You don't know you've been in light
Until you are in the dark side
And unfortunately,
You don't know either you love her or not
Until she went away from your life
Until her tears when she was with you
Changes into smiles
You don't know how worthy she is
Until she doesn't care about you anymore
You don't know how important she is
Until you let her go
You don't know how interesting talking with her
Until you both stop talking, stop arguing
and stop laughing at each other
You don't know how much she used to miss you
Until you miss her but she doesn't care anymore
You never realized it
You never understand
You never care
Because you are too busy with your own
When she had gone away
Everything was gone
In the end,
There's only memories left
In the end,
There's only regrets
Why don't you realized it from the beginning?
Why don't you understand it?
It is only kind of simple thing
Why is it so hard for you?
She'd loved you with her deepest heart
Help you with all her strength
Take care of you with all her loves
Wait for you all her patience
But now it is too late
She'd gone
She'd left
And after all?
Will you still love her?
Sunday, 30 March 2014
Will You Marry Me? #ShortStory #Part2
"Ayo cepetan! Nanti terlambat nih!", gerutu Fiona.
"Iya sayang, ini tinggal sedikit lagi kok. Ini lagi beres-beres dulu.", jawab Dennis sabar.
"Aku tunggu di luar ya!", teriak Fiona bersemangat.
***
Pagi itu, Fiona dan Dennis berencana untuk berlibur bersama teman-temannya sekaligus merayakan hari jadi Fiona yang ke26 tahun. Fiona dan Dennis memang merupakan sahabat lama. Mereka berteman sejak dibangku SMA dan Dennis juga sudah lama menyimpan rasa itu kepadanya. Begitupun dengan Fiona. Namun saat itu, ada kejadian yang tak dapat menyatukan mereka dan akhirnya Fiona pun pernah menjadi milik orang lain. Dennis sangat menyesali kejadian pada saat itu. Memang benar itu merupakan masa lampau, namun itu merupakan pukulan hebat bagi Dennis.
Sepuluh tahun lamanya Dennis menunggu cinta Fiona. Sepuluh tahun lamanya Dennis melihat jatuh bangun Fiona. Sepuluh tahun lamanya Dennis hanya dapat berperan bagi sahabat untuk Fiona. Saat Dennis harus terpisah dengan Fiona karena Fiona harus pindah rumah ke luar kota, Dennis pun hanya bisa menerima keadaan itu. Keadaan dimana mereka tidak akan bertemu lagi. Bahkan mereka tidak berhubungan sama sekali saat itu. Sangat terpuruk. Ya, itulah keadaan Dennis saat itu. Jarak dari Jakarta ke Bogor memang tak seberapa jauh. Dapat ditempuh dengan jalur darat dan sekitar satu sampai dua jam. Tapi apakah mungkin dan wajar seorang pria terus menerus mendatangi seorang wanita di kediamannya? Pikir Dennis logis. Dennis hanya dapat menunggu dan memendam perasaannya. Sampai akhirnya undangan pernikahan Fiona dengan pria lain sampai di rumah Dennis. Dennis hanya bisa mengucapkan selamat dan membantu mengurus pernikahan Fiona, sahabatnya itu.
Sayang sekali, tiga bulan sebelum hari H pernikahan Fiona dan calon suaminya itu, pernikahan mereka dibatalkan. Fiona terpuruk. Fiona jatuh sakit. Calon suaminya sungguh tak bertanggung jawab. Kesal, marah, sedih, terpuruk, hancur, itulah perasaan Fiona saat itu. Disaat itulah, Dennis hanya dapat berusaha di sisinya sebisa yang ia lakukan. Dihiburnya Fiona sampai akhirnya ia kembali ke keadaannya seperti sedia kala. Namun ketakutan akan pernikahan, ketakutan akan jatuh cinta terus menerus membayangi pikiran Fiona. Dennis masih sabar menghadapi Fiona. Ia tidak banyak berharap bahwa Fiona akan jatuh dalam pelukannya. Tapi ia berjanji akan terus menyayangi Fiona dan jika Tuhan berkehendak, maka mereka akan disatukan.
Sudah empat tahun lamanya Fiona bangkit dari kekelaman masa lalunya. Sejak sembilan bulan yang lalu Fiona dan Dennis pun membangun hubungan jalinan kasih. Dan kini mereka akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, mengingat umur mereka yang sudah tak lagi muda.
***
"Pantai ini sungguh indah ya! Bersih dan sejuk sekali.", teriak Jack kepada Dennis dan teman-teman lainnya.
"Iya, betul sekali. Makanya aku pilih pantai ini. Dan penginapannya juga dekat dari sini.", tambah Fiona.
"Oh jadi ini pilihanmu Fii", ledek Elizabeth.
"Ih apa sih? Kan boleh dong kasih pendapat.", jawab Fiona.
"Sudah sudah, ayo kita gelar saja tikarnya dan menikmati hari ini.", lerai Dennis.
***
Sambil mereka menikmati liburan mereka, Jack dan Elizabeth juga teman-teman lainnya membantu Dennis menyiapkan kejutan untuk Fiona. Ulang tahun Fiona memang unik. Hanya terjadi empat tahun sekali, tepatnya 29 Februari. Dan sayang sekali, di usia nya yang ke26 ini tidak ada tanggal 29. Oleh karena itu, mereka merayakannya satu hari lebih awal.
Berbagai rencana dan strategi telah disusun dari satu minggu sebelumnya. Rencana-rencana juga sudah ditetapkan dengan baik. Dan malam yang ditunggu-tunggu pun tiba. Malam itu, bintang-bintang bertebaran di langit, menghiasi langit hitam menemani mereka. Lilin-lilin dipasang di sekitar pantai. Memang pada awalnya, Dennis hanya berencana untuk mengadakan pesta kecil untuk Fiona. Menari dan menyanyi bersama menghabiskan malam dan makan malam bersama. Namun terlintas dalam benaknya untuk melamar Fiona, oleh karena itu, ia pun memutuskan untuk mengubah rencana tersebut dan tidak memberitahu Fiona akan perubahan rencananya.
Fiona sungguh cantik malam itu. Mini dress putih dengan make up tipis menghiasi tubuhnya. Sungguh mempesona. Dennis pun tampak tampan dengan kemeja putih dan jas hitam dengan dasi hitam. Kedua orang itu merupakan paduan pasangan yang menawan.
Di saat semua orang sedang sibuk dengan pesta kecil yang diadakan, Dennis kembali menyiapkan diri untuk lamarannya. Fiona yang kala itu sedang asik menyanyi dan menari bersama teman-temannya pun tidak sadar. Saat Dennis muncul dengan sebuket bunga mawar putih ditangannya, Fiona terdiam. Dennis menyanyikan lagu-lagu romantis untuk Fiona sambil berjalan kearahnya. Semua mata tertuju pada keduanya. Iringan lagu pun semakin menghidupkan suasana itu.
"Aku tahu masa lalumu. Aku tahu kamu. Dan aku tetap sayang sama kamu. Happy birthday sayang. I love you.", sambil memberikan bunga mawar putih untuk Fiona.
Fiona menangis haru. Tak disangka Dennis dapat melakukan hal tersebut untuknya.
"Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih sama kamu.", jawab Fiona sambil mengusap air matanya.
"Di cincin ini telah terukir namamu. Begitupun dengan hatiku. Will you marry me? Aku memang bukan yang pertama untukmu, tapi aku ingin menjadi yang terakhir untukmu.", Dennis menyodorkan cincin.
Fiona mengangguk. Dipasangkanlah cincin itu kepada jari manis Fiona, dan sorak-sorak dan suara tepukan tangan pun terdengar.
"Kamu tahu semua tentang aku. Hampir sepuluh tahun kita kenal dekat. Mungkin kita memang pernah terpisah. Kamu tahu tentang masa laluku. Kamu tahu aku hampir menjadi miliki orang lain dan beberapa bulan sebelumnya, aku gagal. Kamu tahu betapa terpuruknya aku. Tapi kamu selalu ada untuk aku. Aku bukannya gamau percaya hari ini akan terjadi. Aku takut. Ini seperti trauma. Tapi aku bersyukur hari ini terjadi dalam hidupku."
Akhirnya mereka pun memeluk satu dengan yang lainnya. Dennis mengusap air mata di wajah Fiona. Menari bersama, dan mensyukuri akan hal itu. Hari itu, malam itu, merupakan malam terindah, kado terindah, dan kenangan terindah yang pernah dimiliki dan dilalui Fiona dan Dennis. Sekaligus menghapus trauma masa lampau yang pernah terjadi.
They don't know how long it takes, Waiting for a love like this. Every time we say goodbye. I wish we had one more kiss. I'll wait for you I promise you, I will." - [Jason Mraz - Lucky]
Subscribe to:
Posts (Atom)